Skip to main content

Review : Pacific Rim Uprising

Pacific Rim Uprising 
Directed : Steven S. DeKnight
Starring : John Begoya, Scott Eastwood, Chalie Day , Jing Tian , Cailee Spaeny
Production : Legendary Pictures, Universal Pictures
Runtime : 1h 50m

Sudah sewajarnya jika film ini masuk Cinematic Universe sendiri dan bagian dari Monsterverse karena sudah membuat image bagi pengemarnya,namun jika penulisan skrip dan directing kurang bagus maka penonton akan meninggalkan begitu saja. Tak mudah membuat film yang kuat dalam benak penonton, semua aspek harus selaras dan menghasilkan film yang bermutu. Inilah yang diharapkan dari sequel film Pacific Rim (2013) garapan sutradara Guilermo De Torro , film yang ditunggu tahun ini Pacific Rim Uprising 2018 hadir kembali lebih banyak monster dan robot berperang. Setelah 10 tahun perang melawan Kaiju, dunia mulai berbenah memperbaiki kerusakan-kerusakan akibat perang monster.  PPDC ( Pan Pasific Defence Corps ) mempersiapkan robot-robot lebih besar untuk menghadapi serangan berikutnya. Namun Shao Industries dibawah pimpinan Liwen Shao (Jing Tian) dibantu Newt  (Charlie Day) mengusulkan robot drone yang lebih aman, lebih cepat dibandingkan robot sebelumnya. Mantan pilot Jaeger Jake Pentecost (John Begoya) memilih mencari barang-barang rongsokan untuk dijual demi kelangsungan hidup, saat mencari inti plasma bangkai robot Jaeger tak sengaja bertemu Amara (Cailee Spaeny) pembuat robot Scrappers. Keberadaan mereka diketahui PPDC, salah satu cara untuk lolos hanyalah bergabung menjadi prajurit siap tempur melawan Kaiju.  Saat pengiriman Drone Robot  justru di serang oleh Jaegers tanpa awak, disinilah investigasi dimulai mencari siapa dalang memasukan otak kaiju sebagai pengendali Jaegers. Salah satu orang yang mengetahui keberadaan dalang Mako Mori justru tewas. Rekan sejawatnya  Dr Herman (Burn Gorman) merasa ada yang aneh sikap Newt yang menyembunyikan sesuatu tentang Kaiju, dia merasa newt sudah berubah sejak terkena dampak masuk pikiran Kaiju. Perang tak dihindari semua Drone Robot berubah menjadi Monster Kaiju dan menyerang semua pertahanan PPDC dan membuat celah bangkitnya Kaiju level 4 dan 5 mengincar Gunung Fuji untuk menhancurkan dunia dan hanya Gipsy Avenger yang masih bertahan melawan.


Pacific Rim Uprising mengulang beberapa adegan seperti kisah pertama, kadet baru pemimpin baru durasi 1 jam 50 menit, terisi 60 % drama pergumulan para kadet dan rangers dan 40 % sisanya aksi yang sangat baik walaupun ada beberapa CGI terlihat kasar tapi semua tertutupi adegan perang robot dengan Kaiju sangat baik sekali. Sutradara Steven S. DeKnight berusaha semaksimal mungkin menjadikan Pacific Rim ini masuk jajaran Box Office setidaknya sama penghasilan dari Pacific Rim sebelumnya , jajaran aktris-aktor tidak diragukan hadirnya Cailee Spaeny dapat diperhitungkan untuk sequel berikutnya, John Boyega dan Scott Eastwood mampu mengimbangi karakter mereka, yang lain hanyalah sekedarnya. Rasanya banyak kekurangan dari film yang ditunggu oleh pengemarnya namun yang pasti penonton masih suka dengan aksi para robot-robot ala transformers menghancurkan kota,gedung begitu mudah tanpa ada manusia yang mati. Keinginan ala Del Torro rasanya tak terobati suasana kelam, penuh misteri, bentuk khas robotnya banyak berubah.  Apa yang diinginkan semua pengemar memang belum tentu terpuaskan, tapi saya percaya Pacific Rim Uprising menjadi tontonan yang menarik di bulan ini karena bulan berikutnya akan hadir begitu banyak film keren lainya. Saya pribadi tetap menunggu sequel ketiga nanti.

Pacific Rim Uprising tayang tanggal  22 Maret 2018 di seluruh bioskop Indonesia, jika anda pengemar film bertema robot pastikan menontonnya.

Overall : 7/10



Comments

Popular posts from this blog

REVIEW : DARK WATERS

DARK WATERS Directed : Todd Haynes Production : Participant & Focus Features Runtime : 126 Minutes  Sebagai seorang pengacara Rob Billot (Mark Ruffalo) melihat kematian binatang di Distrik Virgina Barat secara tidak wajar yang berhubungan dengan perusahaaan besar dekat dengan lahan pertanian tersebu, melihat ada sesuatu yang salah dengan DuPont perusahaan kooperasi besar justru melakukan pencemaran dan pelangaran lingkungan setempat membuat salah satu petani merasakan ada yang aneh dengan sapi setelah mimun air dari sungai dekat rumahnya, dia ingin sekali melaporkan kasus ini ke pemerintah daerah, sebagai seorang pengacara yang sempat membela DuPont justru saat ini dia ingin menjatuhkan Dupont atas kasus tersebut, gak mudah dengan bukti-bukti otentik serta harus berhasil meyakinkan masyarakat bahwa produksi Teflon tersebut mengandung bahan berbahaya senyawa kimia C8 yang mengakibatkan bermacam-macam penyakit ganas. Sejak tahun 1999 hingga tahun 2013 usaha tersebut

REVIEW : NAKEE 2 ( Thailand Horor Movie )

NAKEE 2 (2018) Directed : Pongpat Wachirabunjong Production : Act Art Generation , Falcon Pictures Runtime : 1 Jam 30 Menit Yang paling disuka dari cerita horror Thailand itu sinematography, tone color pastinya lokasi shooting selalu sesuai jalan cerita juga alurnya yang simple tidak neko-neko.   Setelah sukses dengan Serial tv   NAKEE 1 (2016) - di sutradarai oleh Thanya Wachirabunjong   dimana rating penonton serial ini begitu antusias maka tahun 2018 NAKEE 2 – di Sutradarai oleh Pongpat Wachirabunjong , keduanya adalah suami istri yang serius menekuni film horror Thailand.   Dibuatnya sequel ke dalam layar lebar berharap penonton masih antusias, ternyata hasil sangat mengembirakan bahwa tahun lalu film ini masuk Box Office dengan pencapaian nomer satu di Thailand , dikisahkan pada Nakee-1   seputar kisah puteri Naga yang jatuh cinta dengan manusia, dimana sosok garuda juga mencintai puteri tersebut, karena merasa dikhianati garuda harus berkelahi dengan naga sehing

REVIEW : HOMESTAY ( THAILAND MOVIE 2019 )

HOMESTAY (Thailand Movie 2019 ) Directed :Parkpoom Wongpoom Starring : Teeradon Supapunpinyo, Cherprang Areekul, Suquan Bulakul Production : GDH  Runtime : 131 Minutes Mengadaptasi dari novel dan diadaptasi pada anime jepang tahun 2010 berjudul "Colorful" karya Eto Mori, dengan cerita yang sangat menarik bahkan mendapatkan pujian para kritikus begitu mengena hati penonton, nah tahun 2019 salah satu sutradara Thailand - Parkpoom Wongpoom (Shutter, Alone, Bad Genius )  mencoba mengarap dalam live action berjudul " Homestay " ber genre drama romantis plus bumbu sedikit horor dengan tetap pada koridor anak remaja. Film ini dirilis Tahun 2018 bulan Oktober menduduki Box Office urutan pertama dengan penghasilan 37.49 Juta Baht (= -+ Rp 1.677.655.944.48,-) diawal minggu pertama tak heran jika di Thailand mendapatkan sambutan sangat luar biasa, dan kesempatan ini diambil oleh pihak distributor di Indonesia untuk tayang di jaringan CGV,Cinemaxx Theater. Dal