Skip to main content

Posts

REVIEW FILM : AGENSI RUMAH TANGGA (ART) Ngakak dan Nangis Bareng ART, Film Yang Bikin Kamu Merasa Jadi Manusia

Film Agensi Rumah Tangga (ART) merupakan film komedi yang datang tepat di saat banyak orang butuh tawa yang tidak hanya ringan, tapi juga punya sudut pandang yang jujur. Diadaptasi dari novel best seller karya Almira Bastari, kisah ini mengangkat Katia yang baru saja di-PHK dan harus mencari cara baru untuk bertahan hidup, termasuk membayar KPR. Ia memilih jalan yang jarang dipilih membangun usaha atau agensi penyaluran asisten rumah tangga. Pilihan itu langsung menantang anggapan umum bahwa keamanan hidup hanya bisa didapat lewat jalur resmi seperti PNS. Katia menunjukkan bahwa seseorang bisa menciptakan pekerjaan yang berguna bagi orang lain tanpa harus menunggu lowongan yang “aman” menurut standar masyarakat. Film ini dengan cerdas menempatkan kerja yang sering dipandang sebelah mata sebagai pusat drama, tawa, dan bahkan makna. Enzy Storia (Katia) dengan kehadiran yang hangat dan tidak dipaksakan. Di sisinya, Afgan (Kafka) memberikan warna yang menenangkan tanpa mengganggu ritme k...
Recent posts

REVIEW : FILM HOPE 2026 , "Kehilangan Menjadi Perang, dan Harapan Jadi Pelarian"

Film Hope (2026) karya Na Hong-jin adalah film yang berani mencampur aksi monster, fiksi ilmiah, dan pertanyaan tentang harapan dalam satu cerita yang membingungkan sekaligus menghibur. Kisahnya berlatar di desa pelabuhan terpencil dekat DMZ, di mana polisi desa dan sekelompok pemburu harus menghadapi makhluk misterius yang tiba-tiba muncul. Yang awalnya terlihat seperti film monster biasa perlahan berubah menjadi cerita tentang dua pihak yang sama-sama kehilangan arah. Karakter polisi, terutama kepala polisi Beom-seok, digambarkan sangat manusiawi. Mereka terlalu takut, ragu, dan sering salah langkah. Beom-seok berkali-kali ragu menembak, salah menilai situasi, dan bahkan mengaku hatinya sendiri terasa aneh. Ketakutan mereka membuat aksi terasa lambat dan tidak efektif. Sebaliknya, alien jauh lebih cepat beradaptasi. Mereka mampu mengubah wujud, bergerak dengan kecepatan tinggi, dan tetap fokus pada tujuan meski terluka. Perbedaan ini membuat penonton perlahan bergeser simpati. Ya...

REVIEW FILM ANIME : The Dangers in My Heart: The Movie

The Dangers in My Heart: The Movie merupakan  film yang menawarkan kisah remaja dengan cara yang jujur dan manusiawi. Ceritanya berpusat pada Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada , dua siswa SMP yang sangat berbeda, namun perlahan saling mendekat melalui momen-momen canggung yang terasa nyata. Kyotaro adalah anak introvert yang cenderung menyendiri. Ia punya minat yang tidak biasa untuk anak seusianya: membaca buku tentang anatomi dan hal-hal gelap, serta mendengarkan musik metal. Di balik itu, ia sebenarnya penuh keraguan, kesepian, dan rasa tidak percaya diri. Pikiran gelapnya bukan tanda kebencian, melainkan cara seorang remaja menghadapi dunia yang terasa menekan. Sebaliknya, Anna Yamada adalah gadis populer di sekolah. Ia ceria, energik, dan secara penampilan terlihat lebih matang dibanding teman-teman sekelasnya. Namun di balik citra itu, Anna punya sisi polos, ceroboh, dan rakus makanan yang membuatnya sangat manusiawi. Ia bukan sosok sempurna, melainkan remaja yang sedang bel...

REVIEW FILM : BY ANY MEANS 2026, Ketika Kekerasan Menjadi Jalan Keluar

  By Any Means sebuah film thriller sejarah Amerika disutradarai oleh Elegance Bratton (dikenal lewat The Inspection) dan ditulis oleh Sascha Penn. Film ini diproduksi oleh Paramount Pictures dan terinspirasi dari kisah nyata. Ceritanya berlatar Mississippi tahun 1966, era paling gelap gerakan hak sipil Amerika. Yahya Abdul-Mateen II (Wayne Strider), seorang agen FBI muda kulit hitam yang dikirim untuk menyelidiki serangkaian pembunuhan brutal yang menargetkan para aktivis hak sipil. Sebagai agen kulit hitam di institusi yang didominasi kulit putih, di tengah wilayah yang penuh kebencian rasial, karakter Strider membawa beban ganda, ia harus menegakkan hukum sekaligus menghadapi risiko personal yang jauh lebih besar dibanding rekan-rekannya. Di sisi lain, Mark Wahlberg (Greg Scarpa) , seorang pembunuh bayaran mafia kenamaan yang dipaksa bekerja sama dengan Strider dalam penyelidikan ini. Scarpa adalah sosok dari dunia kriminal terorganisir bukan penegak hukum, bukan pula aktivis ...

REVIEW FILM : OPERASI PESTA COPET

Operasi Pesta Copet datang seperti angin kencang di tengah festival musik yang ramai. Empat sahabat Ijal, Adut, Tia, dan Melodi bukan pahlawan, hanya orang-orang biasa yang terhimpit utang dan PHK. Mereka memutuskan mengambil risiko gila mencopet di tengah Pestapora, festival musik terbesar, sambil menyamar sebagai penonton biasa. Di layar, kita langsung diajak berdiri di antara kerumunan. Suara bass yang bergemuruh, keringat yang menetes, dan tangan-tangan yang saling bersenggolan terasa dekat sekali. Setiap gerakan mereka yang canggung sekaligus cerdik membuat kita ikut menahan napas, seolah-olah dompet kita sendiri yang sedang menjadi target. Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal membawa ketegangan yang halus gestur kecil dan tatapan waspada yang menunjukkan seseorang yang sebenarnya tidak nyaman dengan apa yang sedang ia lakukan. Kristo Immanuel sebagai Adut menyuntikkan kelucuan yang tidak dibuat-buat, sering menjadi katup pelepas ketegangan di momen paling genting. Zulfa Maharani dan...

REVIEW FILM : MOTOR CITY 2026

Motor City sebuah film action thriller Amerika disutradarai oleh Potsy Ponciroli. Film ini dibintangi Alan Ritchson sebagai John Miller, Shailene Woodley sebagai Sophia, dan Ben Foster sebagai Reynolds. Ceritanya berlatar Detroit tahun 1977. John Miller adalah veteran perang Vietnam sekaligus pekerja pabrik yang baru saja bebas dari masa percobaan. Ia ingin melamar kekasihnya, tapi mantan pacar kekasihnya yang kejam malah menjebaknya sehingga ia dipenjara bertahun-tahun. Setelah keluar penjara, Miller hanya punya satu tujuan: balas dendam pada orang yang menghancurkan hidupnya. Hal paling unik dari film ini adalah nyaris tidak ada dialog. Sepanjang sekitar 103 menit, cerita disampaikan lewat ekspresi wajah, gerak tubuh, adegan aksi, dan soundtrack rock era 1970-an. Gayanya mengingatkan pada film-film Scorsese atau Michael Mann, tapi dengan sentuhan modern. Alan Ritchson tampil sangat kuat di peran ini. Fisiknya yang besar dan tatapannya yang intens membuat karakternya terasa meyakink...

REVIEW FILM : MUNAFIK MELAWAN IBLIS, Sebuah Remake Horor Dengan Citrarasa Lokal

Film Munafik: Melawan Iblis merupakan remake Indonesia dari film horor Malaysia legendaris *Munafik* (2016). Film ini sudah bikin pecinta horor lokal penasaran banget. Versi kali ini digarap Sutradara Guntur Soeharjanto dengan sentuhan yang lebih “Indonesia banget”. Cerita intinya tetap sama: seorang ustaz yang imannya goyah setelah kehilangan istri, lalu harus menghadapi kasus kerasukan yang melibatkan tokoh munafik. Tapi jangan bayangin copy-paste. Latarnya diganti jadi desa pesisir dengan nuansa budaya Jawa, nama karakter diubah (kecuali Ustaz Adam), dan elemen horor lokal seperti pocong ikut masuk. Arya Saloka sebagai Ustaz Adam . Dia sempat belajar Iqra dan praktik ruqyah biar aktingnya terasa lebih otentik. Acha Septriasa jadi Fitri, dengan adegan kerasukan yang fisik dan emosional banget. Sementara Donny Damara muncul sebagai Haji Mansyur. Kalau versi Malaysia lebih tenang dan fokus ke sisi psikologis plus ruqyah, versi Indonesia ini lebih agresif. Adegan aksi dan fighting-n...

Review Film Mutiny (2026), Dibalik Kematian Atasan Muncul Sebuah Kejahatan Besar

  Mutiny menjadi salah satu film action yang cukup menarik bagi penggemar Jason Statham. Film ini kembali menampilkan Statham sebagai pria yang harus menghadapi banyak masalah sekaligus berusaha bertahan hidup. Kalau Anda sudah terbiasa melihat gaya Statham di film action, jangan berharap perubahan karakter yang terlalu jauh. Di film ini, Statham berperan sebagai Cole Reed , mantan anggota pasukan khusus yang sekarang bekerja sebagai petugas keamanan. Kehidupannya berubah setelah atasannya, seorang miliarder asal Thailand bernama Tibu, dibunuh tepat di depan matanya. Masalahnya, Cole justru dituduh sebagai orang yang melakukan pembunuhan tersebut. Cole tentu saja tidak tinggal diam. Selain ingin membersihkan namanya, dia juga ingin mengetahui siapa sebenarnya yang berada di balik pembunuhan tersebut. Penyelidikannya kemudian membawanya ke sebuah kapal kargo yang ternyata menyimpan banyak rahasia. Awalnya saya mengira film ini hanya akan menjadi cerita balas dendam biasa. Cole men...

REVIEW FILM : HARUSNYA HOROR, Komedi ala Grup Marapthon

  "Harusnya Horror" jadi salah satu tontonan yang paling dinanti penggemar konten digital tahun ini, karena ini adalah debut penyutradaraan Reza Arap Oktovian, sekaligus proyek besar yang melibatkan geng Marapthon secara utuh pindah dari layar streaming ke layar lebar. Filmnya sendiri mengusung genre horor-komedi dengan premis yang cukup absurd: sekelompok kreator konten yang sedang terlilit krisis finansial dan kehabisan ide, tiba-tiba bertemu dengan sesosok hantu bernama Mas, diperankan langsung oleh Reza Arap. Uniknya, hantu ini justru penakut dan sama sekali tidak menyeramkan, malah punya keinginan sederhana yaitu ingin menonton anime kesukaannya. Dari premis itulah komedi film ini dibangun. Meski mengangkat kisah tentang hantu, film ini justru lebih mengutamakan unsur komedi dibandingkan horornya, terutama lewat karakter hantu penakut yang jadi sumber berbagai kelucuan sepanjang film. Jadi wajar kalau ceritanya memang klise dan bahkan cenderung garing di beberapa titik, ...

REVIEW : Film "Paket Santet" , Masalalu Yang Harus Dibereskan

Film "Paket Santet" adalah film horor Indonesia yang disutradarai Dinna Jasanti, produksi BASE Entertainment, dan menandai debut sang sutradara di genre horor setelah sebelumnya dikenal lewat drama remaja seperti "Dua Hati Biru." Film ini digarap dari naskah Obe Karel, Titien Wattimena, dan Ambaridzki Ramadhantyo . Premisnya cukup segar untuk ukuran horor lokal, alih-alih santet yang datang lewat boneka jelangkung atau ritual di tengah malam, teror di sini dikirim lewat jasa ekspedisi. Tujuh mahasiswa Deva (Fatih Unru), Bela (Yasamin Jasem), Celia (Gabriella Ekaputri), Ale (Fadly Faisal), Firza (Fiki Naki), Glen (Farandika), dan Kiki (Azela Putri) masing masing menerima paket misterius tanpa identitas pengirim yang jelas, dan tak satu pun dari mereka merasa pernah memesan apa pun. Begitu paket dibuka, teror pun dimulai. Salah satu adegan ikonik karakter Bela yang tiba-tiba dikerubungi ratusan lebah atau tawon setelah membuka kirimannya sendiri, sebuah simbol vis...