Skip to main content

Review : The Strangers: Prey at Night


Strangers : Prey at Night 
Directed : Johannes Roberts
Starring : Bailee Madison, Christina Hendriks , Martin Henderson
Production : Bloom, Rogue , Interpid Pictures
Runtime : 85 Minutes

Perjalanan sebuah keluarga bukan menjadi hal yang menyenangkan justru malah sebaliknya menjadi mimpi buruk seumur hidupnya. Berdasarkan kejadian nyata tahun 80an di adaptasi kembali sekuel dari film pertama Strangers (2008), Kinsey ( Bailee Madison ) dipaksa orangtuanya untuk masuk sekolah asrama, dia sebenarnya tidak begitu suka dan sikap benci terhadap orangtuanya pun menjadi-jadi saat berada di sebuah mobil Trailer milik kakeknya berada di Danau Galtin. Sebagai orangtua ingin yang terbaik, tapi Kinsey tidak terima bahkan kakaknya Luke ( Lewis Pulman  ) diminta untuk membujuk Kinsey namun apa yang terjadi justru melihat tubuh kakeknya sudah tidak bernyawa lagi, karena ketakutan mereka meminta orangtuanya untuk mencari pertolongan namun hal itu sia-sia karena ketiga pembunuh Dolface, Pin up Girl dan Man in Mask  sudah mengincar mereka sejak tiba dilokasi. 


Film kedua ini merupakan sekuel dari yang pertama hanya berbeda pemain dan sutradara, tetap dalam satu cerita misteri pembunuhan tanpa sebab. Jika anda telah menonton film pertama rasanya tidak akan sulit untuk mengerti jalan cerita yang hampir sama. Semua kejadian di malam hari tanpa ada satupun petunjuk. ciri khas film thriller horor ini seringkali mengunakan oldies song seperti Making Love out of Nothing at All (Air Suplay) dan Total Eclipse of the Heart (Bonnie Tyler) hal ini mencerminkan sensasi waktu dan keadaan dimana korban tak berdaya,tidak ada kekuatan yang besar  semua menjadi hilang selayaknya nyawa mereka tak tertolong. Secara psikologis penonton tidak terlalu takut menyaksikan pembunuhan dibalut musik romance. Jika selama adegan makin memucak dan soundtrack begitu keras, pasti perasaan ketakutanpun makin nyata seoalah-olah kita berada didalamnya. Seiring jaman perfilmaan dunia mengantikan dengan lagu yang begitu melow,tenang dan terkesan damai, Perubahaan yang drastis kedepannya akan lebih banyak lagu-lagu lama dimunculkan dalam sebuah genre film.


Selalu ada karakter bodoh, menyebalkan atau menjadi pahlawan kesiangan dapat menemukan semua cara untuk lolos dari maut, ya itulah kenapa karakter tersebut muncul karena penonton masih menyukai hal tersebut, maka tak heran jika penanganan skrip yang lemah akan mudah ditebak di akhir adegan. Dengan durasi 85 menit saya rasa cukup terlihat klise, Strangers : Prey at Night dibuat secara cepat tanpa jeda yang berarti besutan dari sutradara Johannes Roberts  ( 47 Meter Down, The Other Side of the Door ) mampu memberikan intenstitas cukup mengejutkan di beberapa adegan. Meskipun minin pengembangan karakter Strangers : Prey at Night dapat menjadikan sequel efektif, dan berharap ada sekuel berikutnya nanti karena secara pendapatan US$ 13 Million dari bujet US$ 5Million, cukup baik diantara beberapa film masih tayang dan menduduki Box Office selama bulan maret ini.

Strangers : Prey at Night tayang hanya di Cinemaxx Theater, CGV, Flix Cinema mulai tanggal 16 Maret 2018.

Overall : 6.5/10
 
 


Comments

Popular posts from this blog

Review : WONDER PARK 2019

WONDER PARK Directed : Josh Applebaum Production : Nickelodeon Movies, Paramount Pictures Runtime : 85 Minutes  Daya kreasi anak kecil memang luar biasa, mereka bisa menciptakan sesuatu yang mustahil dan bisa diwujudkan secara nyata, nah daya imajinasi inilah yang dijual oleh Josh Applebaum selama ini dikenal sebagai penulis dan produser film live action dan film action, film WONDER PARK ini merupakan debut pertamanya dalam film animasi sebagai sutradara,dan sekaligus penulis cerita. Menggandeng Nickelodeon Movies karena segmentasinya pada anak-anak berumur 5 - 10 tahun. Berkisah tentang anak gadis berumur 10 tahun bernama Cameron June (Brianna Denski) mempunyai imajninasi fantastis sebuah wahana yang berisi talking animal sebagai pemeran utama wahana tersebut, ibunya selalu mendongeng kisah wahana tersebut sebelum tidur namun berjalannya waktu mamanya diagnosis penyakit kronis, June merasa kehilangan semangat hidup, seolah-olah imajinasinya hilang ketika mamanya harus menjalani karatin…

REVIEW : DARAH DAGING 2019

PRESS RELEASE : First KOL ( Key Opinion Leader ) Gathering WeTV Indonesia