Skip to main content

Review : SECOND ACT


SECOND ACT
Directed : Peter Segal
Starring : Jennifer Lopez, Vanesha Hudges
Production : STX Films & H. Brothers Film
Runtime : 104 Minutes
Jennifer Lopez mencoba keberuntungan dalam film komedi ringan tanpa banyak kemajuan berarti, rasanya dia lebih cocok menjadi pengisi suara dibandingkan bermain film ntah kenapa produser mau menjadikan dia sebagai pemeran utama mungkin karirnya saat ini sudah mulai redup. Alih-alih kritikus film luar sana senada dengan banyaknya penonton sudah mulai bosan padahal ketika bermain film Maid in Manhattan, Wedding Planner, The Backup Plan akting diancungi jempol. Saat ini Jennifer Lopez harus bangkit dari kematian bermain film karena actingnya begitu saja atau dia sendiri tak ingin melangkah lebih lagi dalam berakting, hanya dia yang mampu menjawab semua ini. Terlepas dari kegagalan berakting pada film Second Act sosok Jennifer Lopez memang terlihat seksi sebagai wanita paruh baya sebagai karyawan toko ingin menjadi seorang manager suksess dibidangnya. Maya Vargas (Jennifer Lopez) mengalami masalah keuangan yang serius belum lagi jabatan yang dia inginkan selama 15 tahun bekerja tak ada hasil justru kalah saingan dengan pegawai baru. Maya merasa pengalaman tidak ada artinya dengan mereka yang lulusan perguruan tinggi, sahabatnya mendukung dia untuk menunjukan pada bosnya kalo dia layak sebagai manager,  mendengar hal tersebut Dilly (Dalton Harold) membuat resume palsu latar belakangnya, dia sendiri tidak tahu menahu namun ada panggilan interview di sebuah perusahaan multiinternasional bidang kesehatan tubuh, disinilah dia bertemu pesaing baru Ron (Freddie Storma) dan Zoe (Vanessa Hudgens) untuk menciptakan produk Organik vs Non Organik, hanya dalam hitungan minggu mereka harus bersaing menciptakan produk yang menghasilkan profit. Persaingan terjadi diantara mereka hingga suatu saat waktu yang ditentukan Maya dan Zoe membuktikan siapa yang terbaik diantara mereka berdua. Di tengah-tengah cerita ternyata Maya mempunyai masa yang kelam dan Zoe menemukan ibu kandungnya tapi demi sebuah prestasi mereka tidak boleh membocorkan rahasia ini kepada karyawan lainnya. Maya sendiri mengalami pergumulan batin sebagai seorang single mother dan wanita karir. Drama kisah kehidupan ini layaknya cerita dongeng sebelum tidur, cerita yang mampu mengugah emosi penonton dalam memaknai kehidupan selama di muka bumi.
 
Second Act murni drama komedi berbalut persaingan wanita dalam berkarir, bermain netral bahkan nyaris tanpa konflik yang berat, Second Act memberikan cerita yang sangat mudah dimengerti kebohongan tak akan berlangsung lama dibandingkan kehidupan yang anda capai saat ini, keberhasilan yang besar belum tentu berawal dari hal yang benar, berlakulah jujur pada diri sendiri berani mengakui kesalahan yang tak perlu disembunyikan. Second Act juga menyoroti masalah single mother dan adopsi tanpa tanggung jawab atas anaknya hingga suatu saat akan menemukan masalah dikemudian hari yang menjadikan si anak percaya atau justru meninggalkan ibu kandungnya. Jennifer Lopez tetap memberikan performa kelucuan,kecantikan dan tentunya menari adalah bakatnya sangat baik walaupun bukan terbaik dari versi Jennifer. Rasanya menonton film Second Act alangkah enaknya bersama pasangan anda, sebuah film drama komedi ringan yang menghibur, tayang mulai 13 Februari 2019 hanya di Cinemaxx Theater dan CGV Cinemas.
Overall : 6.5/10

 


Comments

Popular posts from this blog

REVIEW : HOMESTAY ( THAILAND MOVIE 2019 )

HOMESTAY (Thailand Movie 2019 ) Directed :Parkpoom Wongpoom Starring : Teeradon Supapunpinyo, Cherprang Areekul, Suquan Bulakul Production : GDH  Runtime : 131 Minutes Mengadaptasi dari novel dan diadaptasi pada anime jepang tahun 2010 berjudul "Colorful" karya Eto Mori, dengan cerita yang sangat menarik bahkan mendapatkan pujian para kritikus begitu mengena hati penonton, nah tahun 2019 salah satu sutradara Thailand - Parkpoom Wongpoom (Shutter, Alone, Bad Genius )  mencoba mengarap dalam live action berjudul " Homestay " ber genre drama romantis plus bumbu sedikit horor dengan tetap pada koridor anak remaja. Film ini dirilis Tahun 2018 bulan Oktober menduduki Box Office urutan pertama dengan penghasilan 37.49 Juta Baht (= -+ Rp 1.677.655.944.48,-) diawal minggu pertama tak heran jika di Thailand mendapatkan sambutan sangat luar biasa, dan kesempatan ini diambil oleh pihak distributor di Indonesia untuk tayang di jaringan CGV,Cinemaxx Theater. Dal

Review Take Me Home

Take Me Home  Genre Suspense/ Horror Released Date 11 Mei 2016 Distributor  / Sales Representative : M Pictures Co., Ltd Casting :  Mario Maurer / Wannarot Sonthichai / Peter Noppachai / Producer ; Kanyarat Jiraratchakit Director : Kongkiat Khomsiri Negeri  Gajah Putih ini selalu bisa memberikan tontonan Horor yang tidak mudah ditebak oleh penonton, masih dengan gaya yang khas sinematography mereka. Film ini masih bisa dibilang membuat jantungan yang menontonnya, dari segi kostum , dekorasi bahkan lokasi yang dijadikan punya sangat tepat . Apalagi kehadiran wajah tampan Mario Maurer masih menjadikan film thailand di nanti-nanti oleh pengemarnya. Tan ( Mario Maurer ) , koma setelah kecelakan yang menimpanya sejak 10 tahun yang lalu, saat ini dia berada di sebuah Rumah Sakit dan bekerja disana. Namun kerinduan asal usulnya membuat dia mencari keberadaan keluarganya. Setelah mengetahuinya  Tan mendatangi rumah yang tertera difoto yang dia temukan di bangsal Rumah Sak

REVIEW : DIGNITATE (2020)

DIGNITATE Sutradara : Fajar Nugros Produksi : MD Pictures Durasi : 109 Minutes Apakah yang menjadi dasar sutradara menulis ulang dari kisah yang sukses dalam sebuah Wattpad, mereka ingin tidak sekedar berimajinasi tapi bisa melihat secara jelas apa yang telah mereka baca selama ini. Banyak penulis-penulis muda di Wattpad yang akhirnya masuk dalam layar lebar salah satunya Dignitate karya Hana Margaretha sukses secara pasaran, disukai banyak kawula muda dengan cerita masa kini, cocok dan mengena pada sasaran. Kesempatan baik ini langsung diambil alih oleh sutradara Fajar Nugros menjadi sebuah cerita yang menarik, jayus, lucu dan punya nilai tersendiri. Sebagai Produser MD, Manoj Punjabi disela-sela Premiere Diginate beberapa waktu lalu di Epicentrum – Jakarta, mengatakan : “ Anak remaja sekarang sudah mengerti film bagus bermutu dalam penyanjiannya, ntah apakah film itu dalam sebuah drama, komedi atau horror sekalipun, saya percaya bahwa film ini akan diterima oleh semua re