Skip to main content

REVIEW : MALEFICENT : MISTRESS OF EVIL

MALEFICENT : MISTRESS OF EVIL
Directed : Joachim Ronning
Production : Walt Disney Studios
Runtime : 118 Minutes

Walt Disney Studios meneruskan kisah cinta sejati sepasang dari beda kerajaan, dengan villain yang paling jahat didunia Maleficent hadir kembali menyapa penonton Indonesia dimana kisah tersebut kelanjutan film Maleficent (2014) – Box Office sebesar US$ 758 Million tak heran sequel dibuat dengan budjet lebih megah, heboh dan spektakuler pada semua sisi, kelemahan film pertama diperbaiki oleh sutradara Joachim Ronning, baik dalam segi cerita makin inten dan makin berkembang lebih baik. Aurora (Elle Fanning) sebagai Ratu di Kerajaan Moors akhirnya resmi dilamar oleh Pangeran Phillip (Harris Dickinson) anak dari Raja Ulstead, kedua kerajaan sebenarnya bermusuhan sejak di film pertama namun karena cinta sejati Pangeran Philip dengan Aurora yang anak angkat dari Dark Fey Maleficent (Angelina Jolie) pernikahan tersebut harus dilaksanakan segera, sebagai wujud nyata keseriusan pihak mempelai laki-laki mengundang Maleficent makan malam di istana dibalik acara tersebut Ratu (Michelle Pfeiffer) mempunyai rencana jahat menghancurkan kerajaan Moors akibat masa lalu keluarganya, sebagai alibi bahwa Maleficent yang berbuat kejahatan maka upaya pembunuhan Raja menjadi kejadian menyudutkan Maleficent sosok orang paling jahat dimuka bumi dan pernikahan harus dilaksanakan segera. 

Maleficent : Mistress Of Evil menunjukan tak semua orangtua angkat itu jahat dimata orang-orang, sebagai seorang ibu tetap punya naluri mendidik anak-anaknya, seoang ibu tidak langsung percaya dengan berita yang tersebar dia harus memutuskan mana yang terbaik mana yang bukan, hati yang bijak menjadi salah satu ukuran penting dalam mengambil keputusan. Ibu yang kaku belum tentu aturannya begitu kaku rasa cinta memang tersimpan dalam hati tidak mudah gampang diungkapkan, bagaimana dia mencoba berikan yang terbaik bagi anak-anaknya seringkali berbeda dengan apa yang dia harapkan. Begitu juga dengan anak walaupun statusnya anak angkat atau anak kandung harus tetap menghargai wujud seorang ibu, rasa hormat itulah seringkali meluluhkan hati ibu yang keras menjadi seorang ibu yang lebih lembut. Angelina Jolie sebagai Maleficent mempertahankan karakternya jahatnya tersirat dimatanya, makeupnya menunjukan dia tidak mudah dipengaruhi, tidak mudah diajak tersenyum sosok jahatnya seperti hembusan angin dimana dia berada orang-orang sudah ketakutan, Michelle Pfeiffer menjadi tokoh antagonis dibalik ibu yang baik hati justru menyimpan kebencian yang mendalam akan masa lalunya,tapi ada karakter menurut saya sayang sekali tak ada sesuatu yang menunjukan kalau dia seorang pangeran Phillip seolah-olah bukan sebagai pangeran karena tidak bisa berbuat apa-apa hanya bekal cinta sejati. Chiwetel Eljofor,Sam Riley, Ed Skrein sangat melengkapi beberapa karakternya yang menbangun cerita dari awal hingga akhir. Sinematography ditambah CGI lokasi Dark Fey berada mengingatkan saya pada film Avatar, landscape lembah dan bukit serta sarang raksasa tinggal para mahluk burung sangat ciamik, keren dan terkesan halus sekali seolah-olah kita berada didalam sangkar yang besar penuh warna warni.
Maleficent : Mistress Of Evil sangat cocok menonton di IMAX walaupun bukan dengan camera IMAX tapi hasilnya sangat bagus totalitas para animator CGI,VFX diacungi jempol, apakah nonton bukan IMAX tidak boleh tentu saja tidak anda tetap bisa mengalami indahnya panorama warna warni landscape film ini. Film Maleficent : Mistress Of Evil adalah film bersama keluarga banyak pesan moral apalagi sebagai orangtua suatu saat putra putri menginjak dewasa dan mau menikah, cerita mungkin sudah tahu tapi endingnya anda dibuat terkejut. Sudah tayang mulai tanggal 16 Oktober 2019 di seluruh bioskop Indonesia, Overall : 4/5

Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM HOUSEMAID 2025, Tampil Dalam Cerita Penuh Kejutan

The Housemaid (2025)  Genre: Thriller psikologis / drama Sutradara: Paul Feig Diadaptasi dari novel: The Housemaid karya Freida McFadden Pemeran utama: Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar Ringkasan Cerita Millie, seorang perempuan yang baru keluar dari penjara, mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah milik keluarga Winchester yang kaya  raya. Awalnya pekerjaan ini tampak seperti kesempatan kedua untuk menata hidup. Namun perlahan, atmosfer rumah tersebut berubah mencekam. Rahasia, manipulasi, dan relasi kuasa yang timpang mulai terkuak, menghancurkan ilusi kehidupan kelas atas yang tampak sempurna. Menariknya dari film ini , saya pikir remake film korea karena tidak membaca detil kalau film ini  berdasarkan novel 2022 dengan nama yang sama oleh Freida McFadden. Film tersebut dibintangi oleh Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar. termasuk dalam katagori 17+ ada adegan dewasa, harap sangat bijak untuk menontony...

REVIEW FILM ANIME : The Dangers in My Heart: The Movie

The Dangers in My Heart: The Movie merupakan  film yang menawarkan kisah remaja dengan cara yang jujur dan manusiawi. Ceritanya berpusat pada Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada , dua siswa SMP yang sangat berbeda, namun perlahan saling mendekat melalui momen-momen canggung yang terasa nyata. Kyotaro adalah anak introvert yang cenderung menyendiri. Ia punya minat yang tidak biasa untuk anak seusianya: membaca buku tentang anatomi dan hal-hal gelap, serta mendengarkan musik metal. Di balik itu, ia sebenarnya penuh keraguan, kesepian, dan rasa tidak percaya diri. Pikiran gelapnya bukan tanda kebencian, melainkan cara seorang remaja menghadapi dunia yang terasa menekan. Sebaliknya, Anna Yamada adalah gadis populer di sekolah. Ia ceria, energik, dan secara penampilan terlihat lebih matang dibanding teman-teman sekelasnya. Namun di balik citra itu, Anna punya sisi polos, ceroboh, dan rakus makanan yang membuatnya sangat manusiawi. Ia bukan sosok sempurna, melainkan remaja yang sedang bel...