Skip to main content

REVIEW FILM : THE MAGIC FARAWAY TREE, Kisah Dongeng Ala Enid Blyton Tertuang Dalam Layar Lebar

Film "The Magic Faraway Tree" (rilis 27 Maret 2026 di UK) memang menghadapi tantangan besar karena mencoba mengadaptasi dunia Enid Blyton yang bersifat episodik dan imajinatif ringan ke dalam format film layar lebar yang sering kali menuntut narasi megah ala film fantasy atau film sejenisnya menurut pandangan kritikus beberapa alasan mengapa film ini dinilai kurang kuat dan berisiko menjadi "flop" ,Berbeda dengan film fantasy yang  memiliki konflik tunggal yang besar (menyelamatkan dunia), buku asli Blyton adalah kumpulan petualangan kecil di negeri-negeri yang berbeda. Bahwa upaya untuk menambahkan drama keluarga modern dan "pesan moral" justru membuat keajaiban aslinya terasa dipaksakan dan tidak menyatu dengan narasi fantasi. merasa film ini "aman" tapi kurang memiliki kedalaman supernatural, berjalan di garis tipis antara sukses dan terlupakan.  Film ini mencoba memasukkan elemen komedi modern untuk menarik minat anak-anak zaman sekarang, namun hal ini dianggap menghilangkan nuansa storybook yang klasik dan tenang. Sejarah perfilman fantasi menunjukkan pola kegagalan pada adaptasi buku anak-anak yang populer karena film fantasi membutuhkan biaya CGI yang sangat mahal. Jika tidak mencapai kesuksesan masif seperti Harry Potter, studio seringkali menghentikan sekuelnya (seperti kasus Eragon atau Percy Jackson). Seringkali penulis skenario mencoba menceritakan "kisah mereka sendiri" menggunakan merek buku yang sudah ada, yang justru mengasingkan penggemar setia tanpa berhasil menarik penonton baru secara signifikan. The Magic Faraway Tree dibintangi Andrew Garfield, Claire Foy, dan Rebecca Ferguson. Sutradara: Ben Gregor. Penulis Skenario: Simon Farnaby (yang juga menulis Wonka dan Paddington 2). Bagi pecinta buku Enid Blyton, melihat The Magic Faraway Tree di layar lebar adalah momen yang campur aduk antara antusias dan was-was terutama pembaca setianya sangat kritis soal urusan visual dan gaya adaptasinya misalnya,  Pohon Jauh itu sendiri adalah karakter utama. Penonton ingin melihat pohon yang luar biasa besar dengan berbagai jenis buah yang tumbuh bersamaan. Jika visualnya hanya terlihat seperti pohon hutan biasa dengan sedikit sentuhan CGI, rasa "ajaib" yang dibangun di imajinasi pembaca selama puluhan tahun akan langsung runtuh.  Buku aslinya sangat detail menceritakan rumah-rumah kecil di dalam pohon, seperti rumah Moon-Face yang bundar atau rumah Silky yang penuh furnitur mungil. Penonton mencari estetika cozy dan unik yang memberikan rasa nyaman, bukan sekadar set studio yang kaku dan terlihat artifisial. Nah dalam karakter muncul sebuah ketakutan bahwa karakter seperti Saucepan Man akan dibuat terlalu modern atau seram. Pecinta buku ingin melihat dia tetap terlihat lucu dengan panci-panci yang berisik, sesuai deskripsi Blyton yang jenaka. Visual yang terlalu "keren" atau futuristik justru akan menjauhkan sosok ini dari jiwa aslinya dan melihat bagian  paling seru dari bukunya adalah saat anak-anak memanjat dahan tertinggi dan tiba di negeri yang berbeda-beda. Penonton ingin melihat perbedaan kontras yang ekstrem, misalnya antara Negeri Mainan yang berwarna-warni dengan Negeri Sikut yang menyebalkan. Jika semua negeri terlihat punya palet warna yang sama, petualangannya terasa datar. 
Salah satu impian masa kecil setiap pembaca adalah mencoba perosotan raksasa di dalam pohon. Secara visual, adegan ini harus terasa sangat cepat, seru, dan ajaib. Jika eksekusinya terlihat lambat atau teknis kameranya membosankan, salah satu elemen paling ikonik dari buku ini akan terasa gagal.   Enid Blyton terkenal dengan deskripsi makanannya, seperti Pop Biscuits yang meletus di mulut atau Toffee yang membesar. Penonton ingin melihat makanan ini divisualisasikan dengan teknik yang membuat lapar (seperti adegan makan di film Harry Potter atau Studio Ghibli), bukan sekadar properti plastik biasa. Pecinta buku biasanya lebih suka jika visualnya tetap mempertahankan nuansa klasik Inggris tahun 40-an atau 50-an. Adaptasi yang mencoba terlalu keras menjadi "kekinian" dengan gadget atau bahasa gaul seringkali merusak atmosfer timeless (tak lekang waktu) yang menjadi daya tarik utama karya Blyton, Bagian yang krusial adalah karakter antara  Visual bukan cuma soal CGI, tapi bagaimana interaksi anak-anak dengan penghuni pohon terasa nyata. Penonton lebih menghargai adaptasi yang mengutamakan kedekatan emosional, pembaca buku Blyton justru menyukai skala yang kecil, intim, dan personal. Penonton ingin melihat petualangan di halaman belakang rumah yang tiba-tiba berubah jadi ajaib, bukan peperangan kolosal yang tidak ada di bukunya. Terakhir Dunia Faraway Tree seharusnya menjadi tempat pelarian yang menyenangkan. Jika sutradara mengubah visualnya menjadi terlalu gelap, kelam, atau penuh ketegangan horor demi terlihat "serius," maka mereka kehilangan inti dari mengapa orang menyukai buku ini: yaitu kegembiraan murni dari sebuah imajinasi anak-anak. 
Kembali pada alur cerita dengan kesan "bermain aman" dalam film The Magic Faraway Tree (2026) memang menjadi sorotan utama, terutama karena film ini lebih berfokus pada reuni emosional keluarga Thompson daripada eksplorasi mendalam di dunia fantasinya. Salah satu alasan mengapa pengembangan karakter terasa kurang maksimal, khususnya di tempat-tempat unik seperti istana atau negeri ajaib, adalah karena film ini dirancang sebagai adaptasi modern yang "innocent" dan ramah keluarga.  Alih-alih mengembangkan kemampuan atau lore karakter saat berada di negeri ajaib, sutradara Ben Gregor lebih mengutamakan pesan tentang koneksi keluarga di era digital. Hal ini membuat kunjungan ke berbagai negeri hanya menjadi latar belakang untuk memperbaiki hubungan antara orang tua (Tim dan Polly) dengan anak-anak mereka. Penonton dan kritikus merasa film ini terlalu sering kembali ke "dunia nyata" yang kurang menarik (seperti urusan rumah tangga dan berkebun) daripada memberikan waktu lebih bagi anak-anak untuk berkembang atau belajar di dalam ekosistem pohon tersebut.  Karakter seperti Moonface (Nonso Anozie) dan Silky (Nicola Coughlan) disajikan sebagai karikatur yang ceria dan komedik, bukan sebagai mentor yang memberikan tantangan pengembangan karakter yang serius bagi anak-anak manusia.  Upaya untuk menyesuaikan cerita dengan isu anak-anak pasca-pandemi terkadang justru membatasi ruang bagi petualangan murni yang ada di buku aslinya, sehingga karakter-karakternya terlihat terjebak dalam plot yang sudah bisa ditebak. Meskipun visualnya dianggap menyenangkan dan "ajaib", banyak yang setuju bahwa ada celah narasi yang seharusnya bisa diisi dengan petualangan yang lebih berani di puncak pohon. Terlepas semuanya ini penasaaran dengan filmnya The Magic Faraway Tree mulai tayang tanggal 17 April 2026 di bioskop kesayangan anda. Overall : 7/10
 



Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM HOUSEMAID 2025, Tampil Dalam Cerita Penuh Kejutan

The Housemaid (2025)  Genre: Thriller psikologis / drama Sutradara: Paul Feig Diadaptasi dari novel: The Housemaid karya Freida McFadden Pemeran utama: Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar Ringkasan Cerita Millie, seorang perempuan yang baru keluar dari penjara, mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah milik keluarga Winchester yang kaya  raya. Awalnya pekerjaan ini tampak seperti kesempatan kedua untuk menata hidup. Namun perlahan, atmosfer rumah tersebut berubah mencekam. Rahasia, manipulasi, dan relasi kuasa yang timpang mulai terkuak, menghancurkan ilusi kehidupan kelas atas yang tampak sempurna. Menariknya dari film ini , saya pikir remake film korea karena tidak membaca detil kalau film ini  berdasarkan novel 2022 dengan nama yang sama oleh Freida McFadden. Film tersebut dibintangi oleh Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar. termasuk dalam katagori 17+ ada adegan dewasa, harap sangat bijak untuk menontony...

REVIEW : AFTER BURN 2025, Aksi Pencurian Mahakarya Monalisa

  Melihat trailernya kita akan berekspektasi film bakalan super wah dengan segala aksinya, justru ekspektasi tersebut harus dipendam dulu nanti akan menyesal, dalam film kelas B tidak dituntut banyak kita harus berpikir panjang semua berjalan sesuai skenario saja. Hal ini kita membuat santai dalam menikmati filmnya. Dalam pemilihan aktor biasanya ada yang terkenal demi menarik penonton untuk datang ke bioskop, tapi penokohannya kembali dari sutradara dan penulis cerita seperti yang dilakukan oleh J.J Perry , sebagai aktor beladiri yang berkecimpung lama dan menyutradarai beberapa film aksi, tak heran tema yang diambil dari apa yang dia telah bintangi sebagai aktor, The Killers Game dan The Day Shift cukup baik dipasaran, tahun 2025 film terbarunya After Burn , berlatar belakang jaman distopia pasca dunia dalam kehancuran. Dimulai ketika Jake (Dave Bautista) seorang penyitas dan pemburu harta karun tak pernah gagal dalam segala misinya. Ketika tugas mencari biola tertua dan antik d...