
Film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja yang mendapat respons positif di Berlin International Film Festival menunjukkan bahwa karya dengan pendekatan reflektif masih punya tempat, baik di mata kritikus maupun penonton tertentu. Gaya penyutradaraan Wregas memang dikenal cenderung kontemplatif. Ia sering mengangkat tema sosial dengan cara yang tidak menggurui, tetapi mengajak penonton berpikir secara perlahan. Kalau dikaitkan dengan film Budi Pekerti, apakah nilai-nilai yang dibawa film seperti ini bisa diterima luas di masyarakat Indonesia saat ini? Di satu sisi, masyarakat Indonesia sebenarnya cukup dekat dengan konsep “budi pekerti”. Nilai sopan santun, etika, dan norma sosial masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, secara tema, film seperti Budi Pekerti punya potensi untuk diterima. Banyak orang bisa merasa familiar dengan konflik yang berkaitan dengan reputasi, moral, dan penilaian sosial. Namun, tantangannya ada pada cara penyampaian. Film yang terlalu subtil atau penuh simbol kadang tidak mudah dipahami oleh semua kalangan penonton. Sebagian penonton Indonesia masih lebih nyaman dengan alur cerita yang jelas dan langsung. Jika pesan disampaikan terlalu abstrak, ada risiko maknanya tidak tersampaikan dengan kuat. Di sisi lain, perkembangan penonton muda saat ini mulai berbeda. Mereka lebih terbuka terhadap film yang “mengajak berpikir” dan tidak selalu memberikan jawaban pasti. Media sosial juga ikut mempengaruhi penerimaan. Isu seperti citra diri, penghakiman publik, dan tekanan sosial yang sering muncul dalam film seperti ini justru terasa sangat relevan di era sekarang. Namun, ada juga kemungkinan munculnya resistensi. Film yang mengkritik norma sosial secara halus kadang dianggap terlalu sensitif atau “menyentil” realitas yang tidak semua orang siap hadapi.

Dalam Film Para Perasuk, kekuatan utama justru terasa dari para karakter yang tampil cukup “hidup” dan meyakinkan. Gaya penyutradaraan Wregas Bhanuteja memang sering memberi ruang besar bagi aktor untuk mengeksplorasi emosi secara natural, bukan sekadar dialog yang eksplisit. Para pemainnya cenderung tidak tampil berlebihan. Pendekatan akting yang lebih tenang dan subtil ini membuat emosi terasa lebih realistis, meskipun bagi sebagian penonton bisa terlihat “datar” jika tidak terbiasa dengan gaya seperti ini. Kemampuan mereka terlihat dari bagaimana konflik batin disampaikan lewat ekspresi kecil tatapan, jeda bicara, atau bahasa tubuh. Ini bukan jenis akting yang langsung mencolok, tapi justru butuh kontrol emosi yang kuat. Aktor dituntut untuk menyampaikan tekanan psikologis tanpa harus selalu meledak-ledak. Dari sisi chemistry antar karakter, film ini berhasil membangun hubungan yang terasa autentik. Interaksi mereka tidak terasa dibuat-buat, melainkan seperti potongan kehidupan nyata. Meski begitu, tidak semua karakter mendapatkan porsi pengembangan yang sama. Ada beberapa yang terasa kurang digali lebih dalam, sehingga potensinya belum sepenuhnya terlihat
Angga Yuanda, biasanya berperan dalam karakter serius atau dramatis. Jika di Perasuk dia memerankan tokoh utama atau antagonis yang menuntut kedalaman emosi, dia bisa mewakili aspek itu dengan kuat. Chico Kurniawa, lebih dikenal dengan peran yang karismatik dan energik. Jika tokohnya membutuhkan daya tarik atau humor, perannya bisa mewakili nuansa itu. Maudy Ayunda, terkenal sebagai penyanyi dia juga punya kemampuan akting yang emosional sekaligus elegan. Jika perannya sebagai karakter yang kompleks atau simbol harapan, dia bisa sangat mewakili sisi tersebut. Anggun, sudah terbiasa membawa aura internasional atau simbolisme yang kuat, terutama untuk karakter yang berkesan ikonik atau metaforis. Keempat aktor ini secara keseluruhan sudah pas dan saling melengkapi. Angga dan Maudy memegang inti naratif dan pesan moral, Chico mendukung alur dengan kehadiran manusiawi, dan Anggun menambahkan lapisan simbolis dan perlawanan terhadap penguasa setempat. Hal ini bisa jadi pilihan artistik sutradara, yang memang lebih fokus pada tema besar dibanding eksplorasi tiap individu secara detail. Secara keseluruhan, para pemain sudah memperlihatkan kemampuan mereka, terutama dalam menghadirkan emosi yang halus dan kompleks. Jadi, penilaian terhadap akting di film ini sangat bergantung pada selera. Jika kamu menyukai performa yang natural dan penuh nuansa, maka para karakter di Film Para Perasuk bisa dianggap berhasil. Namun jika mencari yang lebih ekspresif, mungkin terasa kurang kuat. Meski begitu, respons positif di festival internasional seperti Berlinale memberi sinyal bahwa kualitas artistik dan pesan film tersebut diakui secara luas. Pada akhirnya, Film Para Perasuk mungkin tidak akan dinikmati semua orang, tetapi tetap punya tempat penting. Mereka berfungsi sebagai cermin sosial diterima oleh yang siap merenung, dengan apa yang terjadi di masyarakat pada umumnya. FILM PARA PERASUK mulai tayang ta'nggal 23 April 2026 di Bioskop kesayangan kalian. Overall : 8/10.


Comments
Post a Comment