Skip to main content

REVIEW FILM : IKATAN DARAH, Taruhan Nyawa Hanya Satu Tujuan Menyelamatkan Keluarga

Film Ikatan Darah hadir dengan premis yang sebenarnya sangat kuat: seorang mantan atlet pencak silat harus turun kembali ke dunia keras demi menyelamatkan kakaknya dari jeratan utang judi online. Di tangan produser Iko Uwais dan sutradara Sidharta Tata, film ini jelas tidak main-main dalam urusan aksi. Bahkan sejak awal, film ini seperti ingin menegaskan identitasnya bahwa pencak silat bukan sekadar elemen, tapi bahasa utama dalam bercerita.Kekuatan terbesar film ini memang ada pada aksi yang nyaris tanpa henti. Pencak silat ditampilkan bukan hanya sebagai teknik bertarung, tetapi sebagai ekspresi karakter. Setiap gerakan terasa punya emosi, punya beban. Ini membuat adegan laga tidak sekadar keren, tetapi juga punya “rasa”, sesuatu yang jarang berhasil dicapai film aksi lokal. Karakter utama mantan atlet yang kini hidup jauh dari arena menjadi pintu masuk yang menarik. Ia bukan sekadar jagoan, tetapi sosok yang membawa masa lalu, kekecewaan, dan mungkin juga penyesalan. Ketika ia kembali bertarung, itu bukan hanya soal fisik, tapi juga tentang menghadapi dirinya sendiri. Relasi dengan sang kakak menjadi inti konflik, namun di sinilah film mulai terasa kurang dalam. Ikatan darah yang seharusnya menjadi pusat emosi hanya digambarkan secara permukaan. Kita tahu ada cinta keluarga, ada tanggung jawab, tapi tidak benar-benar diajak merasakan kedalaman hubungan itu.

Padahal, dengan isu utang judi online dan ancaman lintah darat, film ini punya ruang besar untuk membangun ketegangan emosional. Ini bukan sekadar konflik eksternal, tapi juga potret kehancuran keluarga dari dalam. Sayangnya, eksplorasi ini terasa terburu-buru, kalah oleh dominasi adegan aksi. Dari sisi ensemble cast, film ini sebenarnya cukup menjanjikan. Kehadiran Livi Ciananta membawa sisi emosional yang lembut, sementara Derby Romero dan Dimas Anggara memberi warna berbeda dalam dinamika karakter. Namun lagi-lagi, ruang untuk pengembangan karakter terasa terbatas. Sosok antagonis yang diperankan Teuku Rifnu Wikana justru menjadi salah satu yang paling menonjol. Ia menghadirkan ancaman yang terasa nyata dingin, sistematis, dan berbahaya. Ini membantu meningkatkan tensi film, meskipun latar belakang karakternya tidak banyak digali. Nama-nama seperti Ismi Melinda, Rama Ramadhan, Abdurrahman Arif, dan Agra Piliang hadir sebagai pelengkap yang menjaga ritme cerita tetap hidup. Mereka mengisi dunia film ini dengan cukup solid, meskipun tidak semua mendapatkan momen yang benar-benar berkesan. Menariknya, kehadiran Lydia Kandou memberi sentuhan generasi yang lebih tua sebuah simbol dari akar keluarga yang seharusnya menjadi pusat cerita. Perannya, meski tidak dominan, sebenarnya bisa menjadi jembatan emosi yang lebih kuat jika diberikan porsi lebih dalam.
Film ini juga layak diapresiasi karena mencoba menjadikan pencak silat sebagai medium utama, bukan sekadar genre. Ini langkah berani. Artinya, identitas budaya tidak hanya jadi hiasan, tapi fondasi. Dalam konteks ini, Ikatan Darah punya nilai lebih dibanding banyak film aksi lainnya. Namun tetap saja, ada ketimpangan yang terasa. Aksi begitu kuat, begitu dominan, sampai-sampai ceritanya sebagai benang merah Ikatan Darah seperti tempelan semata. Ia berhasil sebagai tontonan aksi tetapi belum sepenuhnya berhasil sebagai kisah hubungan tentang keluarga, tak ada flashback sabatan menjadi bagian dari keluarga. konsep ikatan darah kurang di explore pada didepan awal-awal tak usah banyak namun membawa penonton interest. Kalau ingin membuat penonton benar-benar “membeli” konsep ikatan darah, film ini seharusnya memberi lebih banyak ruang pada relasi, konflik batin, dan pilihan moral. Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah pertarungan terasa berarti bukanlah siapa yang menang, tapi apa yang dipertaruhkan. Meski begitu, Film Ikatan Darah tetap layak ditonton. Terutama jika dilihat sebagai film aksi dengan lapisan emosi yang tersembunyi. Penonton bisa menikmati pertarungan yang intens, sekaligus mencoba membaca sendiri makna hubungan di baliknya. Dan mungkin, justru di situlah kekuatannya: ikatan yang tidak selalu diucapkan, tapi tetap terasa dalam setiap pukulan. Film IKATAN DARAH, mulai tayang tanggal 30 April 2026 diseluruh Bioskop kesayangan anda, pecinta aksi bela diri rasanya film wajib nonton tapi mereka yang tidak suka berdarah-darah lebih baik urungkan saja. Overall : 8.5/10

 


Comments

Popular posts from this blog

PRESS RILIS : GALAXY QUEST OF INDONESIA, Amazing Race ala Vidio.Com Perpaduan teknologi dan budaya

  Apa jadinya jika sembilan figur publik dengan kepribadian dan latar belakang yang beragam, diajak menelusuri kota-kota Indonesia demi mengungkap cerita-cerita yang nyaris terlupakan? Itulah inti dari Vidio Eksklusif Samsung QUEST: Unleash Your Galaxy, Explore The Culture , sebuah reality series perjalanan yang akan tayang secara eksklusif di Vidio mulai 13 Juni 2025. Series ini bukan sekadar acara jalan-jalan biasa. Para peserta yang terdiri dari aktor, aktris, content creator, hingga figur inspiratif akan dihadapkan pada serangkaian misi lintas kota. Dari menyelami jejak sejarah kota Semarang, menghidupkan kembali denyut kreatif kota Bandung, hingga mencicipi rasa dan filosofi budaya di Yogyakarta. Di balik kamera, setiap langkah mereka didorong oleh satu tujuan: menyatukan potongan-potongan cerita yang tersembunyi di balik kuliner, arsitektur, dan seni lokal, lalu membawanya ke permukaan dalam bentuk karya. Dipandu oleh Darius Sinathrya, yang hadir dengan pembawaan hangat...

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM KOREA HI FIVE, Kisah Superhero Ala Korea

DIRECTOR: Kang Hyoung-chul ACTOR : Lee Jae-In sebagai Wan-Seo (Atlit Taekwondo) Ahn Jae-Hong sebagai Ji-Seong (Penulis Skenario) Yoo Ah Hin  sebagai Ki Dong ( Manipulasi elektronik) Ra Mi-Ran sebagai Sun-Nyeo (Manager Minuman Yogurt) Kim Hee-Won sebagai Yak-Su (Leader) Oh Jung-Se sebagai ayah Wan-Seo (Mantan Atlit Taekwondo) Jin Young (GOT7) sebagai Young-Chun (Leader Sekte) Durasi : 120 Menit Produksi : Next Entertaiment  Dengan kombinasi para aktor muda dan senior film ini menjanjikan akan masuk box office cukup lumayan pada posisi ke 10, agak lambat bisa jadi potensi film masi dipegang pihak hollywood atau film bertema politik, bagi saya HiFive jika di crossover Moving atau film sejenis superhero korea akan merambah pada kecintaan superhero local, trailer sudah terpotong tayang di medsos berarti banyak berharap banyak film ini bisa ditonton tentu saja di bioskop bukan platform ilegal. Kisah 5 orang tak dikenal mencoba mencari kekuatan masing-masing, nah siapa mengapa tak di...