Film Kupeluk Kamu Selamanya datang dengan beban ekspektasi sebagai drama keluarga yang sangat emosional. Diproduksi oleh Kuy! Studios bersama Aktina Film, dan disutradarai oleh Pritagita Arianegara, film ini jelas ingin menyentuh sisi paling dalam dari hubungan ibu dan anak. Namun tantangannya bukan pada niat, melainkan pada bagaimana cerita itu diterima penonton. Kisah Naya, yang diperankan Hana Malasan, adalah potret seorang ibu tunggal yang harus mengorbankan banyak hal demi anaknya, Aksa (Jared Ali). Dari premis saja, film ini sudah mengarah ke drama berat tentang penyakit bawaan, perceraian, dan perjuangan hidup yang tidak mudah. Masalahnya, banyak penonton cenderung langsung mengasosiasikan cerita seperti ini dengan “drama yang terlalu menguras air mata”. Apalagi ketika konflik seperti suami yang pergi (diperankan Ibnu Jamil) muncul, persepsi awal bisa menjadi negatif: seolah film ini hanya menumpuk penderitaan tanpa memberi ruang napas. Namun jika dilihat lebih jernih, film ini sebenarnya bukan tentang siapa yang salah dalam rumah tangga, atau sekadar soal pengkhianatan. Fokus utamanya ada pada perjalanan batin seorang ibu yang dipaksa berdamai dengan keadaan yang tidak pernah ia pilih.
Justru di sini letak pendekatan yang perlu diubah bagi penonton. Kupeluk Kamu Selamanya akan lebih mudah dinikmati jika tidak dilihat sebagai “film sedih”, tetapi sebagai refleksi tentang ketahanan manusia. Naya bukan hanya korban keadaan, tetapi seseorang yang terus bertahan meski dunia seakan tidak berpihak. Soal isu biaya pengobatan dan tidak terlihatnya peran sistem seperti BPJS, ini memang bisa terasa kurang realistis bagi sebagian penonton. Tapi film ini tampaknya tidak ingin masuk ke ranah sosial yang terlalu teknis. Ia memilih fokus pada emosi personal, bukan detail sistem. Pilihan ini memang ada konsekuensinya: cerita terasa lebih sempit, bahkan kadang seperti “terlalu disederhanakan”. Tapi di sisi lain, ini membuat film lebih universal. Penonton dari latar belakang apa pun tetap bisa memahami rasa kehilangan, ketakutan, dan harapan yang dialami Naya. Hubungan antara Naya dan Aksa menjadi jantung film. Interaksi mereka sekecil apapun justru menjadi momen paling kuat. Bukan pada adegan tangis yang besar, tapi pada gestur sederhana: merawat, menenangkan, dan tetap hadir.
Gaya penyutradaraan Pritagita Arianegara yang memang sering mengangkat relasi ibu-anak terasa konsisten di sini. Ia tidak berusaha membuat drama menjadi megah, tapi justru intim. Kamera seolah mengajak penonton masuk ke ruang pribadi karakter. Bagi penonton yang tidak terbiasa dengan drama seperti ini, film memang bisa terasa “berat” atau bahkan melelahkan secara emosional. Tapi kalau diberi kesempatan, film ini sebenarnya menawarkan pengalaman yang cukup jujur tentang kehidupan. Kuncinya ada pada ekspektasi. Jika datang untuk mencari konflik besar seperti perselingkuhan yang eksplosif atau drama sosial yang kompleks, mungkin akan kecewa. Tapi jika datang untuk melihat perjalanan seorang ibu bertahan, film ini punya nilai yang kuat. Pada akhirnya, Kupeluk Kamu Selamanya sebuah cerita drama kehidupan dengan punya niat yang jelas: menunjukkan bahwa cinta seorang ibu tidak selalu indah, tapi selalu nyata. Dan jika penonton bisa menerima itu, film ini tidak lagi terasa “termehek-mehek”, melainkan menjadi cermin kecil tentang kekuatan manusia dalam menghadapi hidup. KUPELUK KAMU SELAMANYA mulai tayang 30 April 2026 di Bioskop kesayangan anda, nikmati perjalanan kecil Naya dan Aksa. Overall : 7/10.



Comments
Post a Comment