Skip to main content

REVIEW : DARAH DAGING 2019


DARAH DAGING
Sutradara : Sarjono Sutrisno
Produksi : Skylar Pictures
Durasi : 1 Jam 23 Menit
Saat terlintas dibenak kita apa arti judul “DARAH DAGING” sebuah film drama keluarga dengan kemelut problema yang besar dan berakhir happy ending, namun jika anda melihat trailernya anda dihadapakan sebuah cerita aksi yang menjadi teka teki apa yang sebenarnya terjadi, sedalam apa kita memaknai arti mencintai serta menyayangi dalam ikatan persaudarana atau persahabatan? Sutradara Sarjono Sutrisno membawa kita kedalam sudut pandang lain arti mengekspresikan kisah kasih sayang terhadap orangtua yang membesarkan kita, ketulusan dan pengorbanan tiada tara tanpa memadang kelemahan kita sendiri, cerita tentang kasih sayang dari orang baik untuk oranglain walaupun jalan yang ditempuh sala, disaat kondisi seperti ini apakah orang yang kita cintai mendukung atau justru menyalahkan atas tindakan kita. Setiap karakter yang terjadi dalam film ini mengajarkan arti sebuah cinta, pengorbanan dan memaafkan atas sebuah kesalahan. Dengan alur flashback tanpa perbedaan warna yang menyolok penonton diajak mengerti latar belakang kasus perampokan seperti yang ada di trailernya.
Berkisah salah satu penulis novel ingin mengangkat cerita tentang kejadian 15 tahun yang lal, Hanna ( Estelle Linden )  bertemu dengan Salim ( Donny Alamsyah ) menjalani kehidupan dibalik jeruji, Hanna ingin sekali apa yang menjadi latar belakang mereka merampok Bank Batavia, dengan metode flashback berawal dari  empat saudara ingin menolong ibunya yang sedang sakit parah, satu-satunya jalan hanyalah operasi besar tidak sedikit uang yang dikeluarkan, pekerjaan mereka saat ini tak mampu hanya satu jalan memperoleh uang sangat besar. Adik bungsu Fikri ( Arnold Leonard ) berusaha meminjam uang cukup besar pada Bank dimana dia bekerja namun tidak setujui lantaran uang yang diinjam tidak setara dengan gajinya, rasa kesal Fikri tertuang saat dia bersama saudara-saudaranya, atas bujukan Salim dan Borne ( Tanta Ginting ) si pemasok senjata, ada rasa takut dan kuatir namun semua berjalan sesuai rencana hingga pada saat merampok bank tersebut, Borne melihat Fikri begitu gugup menyebabkan dia sendiri dihalangi oleh satpam, seling beberapa waktu justru Borne melepaskan tembakan mengenai Fikri, Arya ( Ario Bayu ) sangat kecewa lantaran kejadian ini justru memicu keamanan di bank makin parah. Mencoba keluar dari pintu utama tak disangka petugas polisi sedang berjaga-jaga dan seketika itu terjadi baku tembak hingga beberapa orang menjadi sasaran tembak, kisah flashback inilah menjadi kunci jawaban atas judul Darah Daging. 

Mungkin bagi penonton pengunaan shaking camera saat wawancara akan berpengaruh dalam menonton, tidak semua menyukai cara ini dan ini mungkin sangat menganggu tapi bagi mereka yang terbiasa menonton film ala detektif, pengambilan gambar ini sangat lumrah terjadi – kesan dramatisasi sangat kuat mengingat alur flash back seperti pada film Crash atau adegan film yang semua karakter saling berhubungan, Salut dengan acting Karina Suwandi ( Ibu ) tanpa banyak dialog hanya berdasarkan Bahasa tubuh berakting kita sudah bisa membaca betapa besar pengaruh seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya. Mengenai pengunaan Audio sfx dan scoring sangat sedikit menganggu karena terlalu keras ditelinga penonton akan merasa terganggu seolah-olah mixingnya belum selesai sudah harus tayang, yang menarik dari film Darah Daging perbedaan judul dan cerita sangat jauh tapi diperjelas dalam durasI 87 menit selama film ini berlangsung, yang kedua ada bagian dimana sang ibu begitu sayang menemukan anak-anaknya menjadi sebuah keluarga dan si ibupun dalam kondisi tua masih melakukan hal yang sama seperti ketika anak-anak nya masih kecil. Yang ketiga ada adegan baku tembak berada disebuah sekolah SD ketika banyak anak-anak kecil keluar sekolah hal ini sangat menggangu karena anak SD identik mereka masih kecil -seolah olah tidak ada kejadian besar padahal ada orang memegang senjata, semua ini menjadi catatan kecil bagi sineas dan produksi Skylar Pictures untuk film-film berikutnya yang bertema Aksi dan Drama keluarga .

FILM DARAH DAGING tidak sekedar drama keluarga tapi sebuah cerita aksi seru yang melibatkan emosi penonton, dengan segala kekurangan dari penulis cerita dan sutradara bagi saya adalah langkah berani mengambil genre Drama Keluarga plus Action dalam perfilmaan di Indonesia, film DARAH DAGING mulai tayang tanggal 5 Desember 2019 hanya di Bioskop kesayangan anda. Overall : 7.5/10


Comments

Popular posts from this blog

REVIEW : DARK WATERS

REVIEW : NAKEE 2 ( Thailand Horor Movie )

REVIEW : HOMESTAY ( THAILAND MOVIE 2019 )

HOMESTAY (Thailand Movie 2019 ) Directed :Parkpoom Wongpoom Starring : Teeradon Supapunpinyo, Cherprang Areekul, Suquan Bulakul Production : GDH  Runtime : 131 Minutes Mengadaptasi dari novel dan diadaptasi pada anime jepang tahun 2010 berjudul "Colorful" karya Eto Mori, dengan cerita yang sangat menarik bahkan mendapatkan pujian para kritikus begitu mengena hati penonton, nah tahun 2019 salah satu sutradara Thailand - Parkpoom Wongpoom (Shutter, Alone, Bad Genius )  mencoba mengarap dalam live action berjudul " Homestay " bergenre drama romantis plus bumbu sedikit horor dengan tetap pada koridor anak remaja. Film ini dirilis Tahun 2018 bulan Oktober menduduki Box Office urutan pertama dengan penghasilan 37.49 Juta Baht (= -+ Rp 1.677.655.944.48,-) diawal minggu pertama tak heran jika di Thailand mendapatkan sambutan sangat luar biasa, dan kesempatan ini diambil oleh pihak distributor di Indonesia untuk tayang di jaringan CGV,Cinemaxx Theater. Dalam skenario karakter Mi…