Skip to main content

REVIEW : Film Kafir: Gerbang Sukma, Balas Dendam Dalam Cinta Masa Lalu

Film terbaru dari Starvision , Kafir: Gerbang Sukma” adalah sekuel dari film horor Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Dengan Sutradara yang sama Azhar Kino Lubis dan beserta tim terdahulu, sekuel ini menghadirkan kisah baru yang terjadi 8 tahun setelah peristiwa film pertama, dengan dinamika keluarga tokoh utama Sri (Putri Ayudya), Andi (Rangga Asof) , Dina (Nadya Arina)  yang kembali dihantui oleh rahasia masa lalu serta teror supranatural yang lebih dalam dan intens. Film sebelumnya mengisahkan tragedi dan teror yang menimpa keluarga Sri setelah kematian suaminya secara misterius. “Kafir: Gerbang Sukma” membawa cerita ke masa delapan tahun kemudian, fokus pada usaha Sri membangun hidup baru bersama anak-anaknya, namun masa lalu yang ia sembunyikan memicu teror baru yang mengancam seluruh keluarga. 
Setelah mengalami mimpi aneh, keluarga Sri datang ke rumah kakeknya , saat tiba dirumah mereka  tidak merasa yang aneh dan merasa keduanya sudah pikun. namun baru hari pertama melihat kakek seringkali keluar ke gudang, Dina merasakan keanehan kedua kakek dalam waktu tertentu, dia telusuri kegiatan kakek dan nenek makin hari makin parah hingga muncul sosok misterius yang mencampuri hidup mereka. Satu-satunya jalan hanya meminta pertolongan dukun terkenal yang sudah membentengi Sri selama 8 tahun ini. Makin lama Sri mengetahui kalo Hanum (Indah Permatasari) yang melancarkan santet terhadap Sri lantaran dulu dia merebut suaminya ketika Hanum sudah mengandung, dengan kekuatan ilmu hitam juga, kesadaraan inilah yang membuat Hanum membangkitan Dukun (Sujiwo Tejo) yang dulu menolong sri berbalik sekarang menyerang Sri sekeluarga dan buntut balas dendam yang tak usai. Pada film kedua ada banyak peningkatan atau perbedaan utama yang dibuat dalam Kafir: Gerbang Sukma dibandingkan dengan film pertamanya, Gerbang Sukma fokus pada dosa masa lalu, konflik batin, dan hubungan keluarga yang kompleks bukan hanya sekadar teror supranatural biasa. Ceritanya mengeksplor konflik emosional keluarga Sri dan dampak tragis dari keputusan masa lalu yang belum selesai. Itu membuat horornya terasa lebih psikologis dan berlapis secara naratif. Dengan menghadirkan perkembangan karakter dari tokoh-tokoh utama, terutama Sri, anak-anaknya serta istri Andi yang baru (Rani - Assa Asuncao). Ada dinamika keluarga yang lebih kompleks dibanding film pertama yang fokus pada peristiwa kejadian setan yang lebih langsung.Tidak hanya menggunakan jumpscare, tetapi menciptakan ketegangan dari suasana yang mencekam, konflik batin, rahasia kelam, dan ritual mistis yang lebih matang. Pendekatan ini membuat suasana horornya dirasakan lebih intens dan immersive. Disela-sela press confrence di bioskop Epicentrum Jakarta Selatan, Rumah Produksi StarvisionPlus  dibawah Chand Parwez Servia mengatakan "kami meningkatkan produksi Visual dan Teknis Lebih Matang yang berfokus pada visualisasi yang lebih gelap dan kuat, penataan musik, desain produksi, serta pilihan lokasi syuting yang mendukung rasa teror lebih intens dibandingkan film pertama.Juga menghadirkan beberapa tokoh baru dan dinamika baru yang ikut memperkaya konflik cerita misalnya pasangan anak Sri dan karakter lainnya yang memicu ketegangan lanjutan dalam keluarga ". 
Namun tak sekedar horor, visual gore dan thriller terasa lebih dalam dibanding sebelumnya, pengunaann close up kamera kadang ada,dan juga hanya melihatkan bayangan saja tetap saja kengerian yang dibangun pada Kafir 2 - Gerbang Sukma terasa. Tanpa mengurangi rasa nikmat menonton, ada catatan yang menjadi obrolan setelah menonton ada plot hole  logika di Kafir: Gerbang Sukma yang paling terasa adalah dimana aturan “Gerbang Sukma” tidak konsisten antara alam manusia dan alam gaib, tapi tidak pernah dijelaskan, bahkan Sri sendiri tak punya kekuatan tertentu hanya mengandalkan matra yang dia dapat 
sehingga ancaman terasa datang sesuka skenario, bukan karena sebab-akibat yang kuat. Beberapa karakter terlalu lama menerima kejadian supranatural: tidak ada fase penyangkalan yang masuk akal, hubungan masa lalu  Andi dengan pacarnya  (Laila - Nova Eliza) muncul namun tak mencerminkan dendam yang yang terdalam dari orang yang disakiti seharusnya lebih membekas. Rumah kakek berada di hutan bukan di desa, anehnya ada tetangga yang memberikan info soal ibadah masjid tapi tak ada tetangga terdekat terlihat. Ritual yang dijalankan korban tak dijelaskan secara detil dengan lawan yang seimbang justru kalah begitu saja, munculnya Hanum dalam rahim kerbau seolah-olah film monster bukan berasal dari kuburan yang berubah makin lama menjadi manusia. Tumbal dari janin bayi terasa janggal karena terlihat besar bukan terlihat kecil (bagi yang mengalami keguguran akan paham) Jadi penonton akan menebak tidak saja santet tapi bisa juga karena dosa masa lalu ibunya yang belum tuntas yang ingin hidup bahagia  justru berbanding kebalik .
Di film pertama, persekutuan punya harga yang sangat jelas. Di film kedua: Ada karakter yang terlibat ritual tapi akibatnya tidak setara 
berakibat penonton jadi bingung: apa sebenarnya harga dari dosa itu? Konflik besar dibangun lama tapi penyelesaian datang terlalu cepat dan praktis “Setelah semua teror itu, kok selesai segini aja?” ini memunculkan spekulasi entah sengaja dibuka untuk Kafir 3 Beberapa misteri lama justru dibiarkan menggantung lagi. Kafir 2 kuat secara atmosfer dan tema, tapi  lemah di konsistensi aturan dunia beberapa konflik diselesaikan demi kebutuhan cerita, bukan logika internal. Dari semua ini apakah Kafir Gerbang Sukma menjadi layak di tonton, tentu saja dengan berapa pesan moral  yang didapat dosa dan kesalahan masa lalu yang tidak diselesaikan akan menurun dan menghancurkan generasi berikutnya. Teror di film ini bukan sekadar makhluk gaib, tapi akibat dari pilihan manusia sendiri. Jalan pintas selalu ada harga mahalnya persekutuan, ritual, dan praktik menyimpang mungkin memberi solusi cepat, tapi pada akhirnya menuntut balasan bukan hanya ke pelaku, tapi ke orang-orang terdekatnya. Keputusan Sri dimasa lalu berdampak langsung ke anak-anaknya. Film ini menekankan bahwa trauma dan dosa bisa diwariskan, kalau tidak dihadapi dengan jujur.  Diam dan menyangkal justru memperparah masalah menyembunyikan kebenaran demi “ketenangan” ternyata hanya menunda kehancuran. Semakin lama disangkal, terornya makin besar.  Keberanian menghadapi masa lalu adalah satu-satunya jalan keluar bukan lari, bukan mencari bantuan sesat, tapi mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas konsekuensinya. Horor terbesar datang dari manusia, bukan setan. Film Kafir: Gerbang Sukma mengingatkan bahwa: iman yang goyah, ambisi berlebihan, dan jalan pintas spiritual akan selalu berujung petaka. Makanya horornya terasa lebih psikologis dan moral, bukan cuma visual. Film ini tayang mulai tanggal 29 Januari 2026 di bioskop kesayangan anda, rasakan gore, thriller dan horor menjadi satu bagian cerita yang tak putus dari awal hingga akhir. Overall : 7.8/10

 

Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM HOUSEMAID 2025, Tampil Dalam Cerita Penuh Kejutan

The Housemaid (2025)  Genre: Thriller psikologis / drama Sutradara: Paul Feig Diadaptasi dari novel: The Housemaid karya Freida McFadden Pemeran utama: Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar Ringkasan Cerita Millie, seorang perempuan yang baru keluar dari penjara, mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah milik keluarga Winchester yang kaya  raya. Awalnya pekerjaan ini tampak seperti kesempatan kedua untuk menata hidup. Namun perlahan, atmosfer rumah tersebut berubah mencekam. Rahasia, manipulasi, dan relasi kuasa yang timpang mulai terkuak, menghancurkan ilusi kehidupan kelas atas yang tampak sempurna. Menariknya dari film ini , saya pikir remake film korea karena tidak membaca detil kalau film ini  berdasarkan novel 2022 dengan nama yang sama oleh Freida McFadden. Film tersebut dibintangi oleh Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar. termasuk dalam katagori 17+ ada adegan dewasa, harap sangat bijak untuk menontony...

REVIEW : AFTER BURN 2025, Aksi Pencurian Mahakarya Monalisa

  Melihat trailernya kita akan berekspektasi film bakalan super wah dengan segala aksinya, justru ekspektasi tersebut harus dipendam dulu nanti akan menyesal, dalam film kelas B tidak dituntut banyak kita harus berpikir panjang semua berjalan sesuai skenario saja. Hal ini kita membuat santai dalam menikmati filmnya. Dalam pemilihan aktor biasanya ada yang terkenal demi menarik penonton untuk datang ke bioskop, tapi penokohannya kembali dari sutradara dan penulis cerita seperti yang dilakukan oleh J.J Perry , sebagai aktor beladiri yang berkecimpung lama dan menyutradarai beberapa film aksi, tak heran tema yang diambil dari apa yang dia telah bintangi sebagai aktor, The Killers Game dan The Day Shift cukup baik dipasaran, tahun 2025 film terbarunya After Burn , berlatar belakang jaman distopia pasca dunia dalam kehancuran. Dimulai ketika Jake (Dave Bautista) seorang penyitas dan pemburu harta karun tak pernah gagal dalam segala misinya. Ketika tugas mencari biola tertua dan antik d...