Skip to main content

Review EVEREST


Persembahan Walden Media ,Cross Creek Pictures,Working Title Film, RVK Studios  Distributor oleh Universal Pictures  merupakan sebuah kerjasama yang menghasilkan sebuah film berdasarkan kisah nyata 13 pendaki awam 1996 menuju gunung tertinggi di dunia EVEREST, Puncak gunung setinggi 8400 meter setara terbang pesawat jumbojet 747 Sebuah epic advanture yang mendebarkan disajikan dengan cerita yang mudah dimengerti, perjalanan dua ekspedisi yang berbeda, melampaui batas mereka menghadapi badai salju yang berat . Persahabatan mereka ditempa melalui kesulitan, keberanian yang paling sulit dicapai oleh para pendaki manapun demi sebuah obsesi seumur hidup menjadi perjuangan fenomental untuk bertahan hidup. Baltasar Kormakur berhasil membuat 3D biopic disaster film drama yang patut ditunggu oleh penonton, skrip di kerjakan oleh Simon Beaufoy ,Mark Mendoff & William Nicholson berdasarkan tragedi Mei 1996 buku terlaris Into Thin Air karangan John Krakauer. 


Pagi yang cerah tanggal Maret 1996 , Rob Hall (Jason Clarke ) New Zealand Expedition - Based Adventure Consultans  mulai memimpin anggota regunya untuk melakukan perjalanan mendaki puncak tertinggi di dunia yaitu Everest. Anggota regunya tidak hanya teman-temanya, tetapi ada juga yang dari negara lain Jepang , Australia dan  Rusia Scott Fisher ( Jake Gyllenhaal ) seorang yang berpengalaman mendaki gunung berbasis di Seattle - Mountain Madness, berencana juga mendaki gunung Everest Rob  mempunyai perhitungan pasti bahwa pendakian ke puncak Everest membutuhkan waktu 40 hari, tanggal 30 Maret, mereka  mulai mendaki Everest dan menurut perkiraannya  akan sampai di puncak Everest pada tanggal 10 Mei.  Awal-awal pendakian terlihat biasa saja, tidak ada masalah. Namun di hari ke 10 mulai terlihat ada kendala, daya tahan para peserta mulai menurun, mereka pun harus kembali ke base camp untuk di lakukan pemeriksaan. Tiga pendaki dan Sherpa di Hari berikutnya  Mereka kembali melanjutkan pendakian, harus melewati jembatan besi yang menghubungkan satu tebing ke tebing lainnya, terjadi insiden kecil saat berada di Hilary Step  ketika salah satu anggota mereka Doug ( John Hawkes )  akan menyebrangi jembatan besi tersebut terlihat badai cukup kencang, membuat Doug panik dan kurang konsentrasi, Doug sempat terpeleset dan hampir jatuh, tetapi Rob Hill selaku pemimpinnya berhasil menyelamatkan Doug, dan mereka mulai melanjutkan perjalanan nya. Menjelang malam Hal sanggat kelelahan sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan,ditambah badai selatan membuat mereka tak bisa melihat karena salju yang makin tebal , team Rusia pun mengalami hal yang sama, kekurangan oksigen membuat mereka harus bertahan menunggu team yang yang membawa tabung oksigen lebih .




Setelah Mereka mulai mendekati puncak Everest, kembali  masalah mulai muncul, ternayata ada badai yang disertai hujan salju membuat mereka kekurangan oksigen yang menyebabkan daya tahan tubuh mereka melemah, termasuk pemimpin regu mereka yaitu Rob Hall. Tetapi mereka tetap semangat untuk sampai ke puncak Everest.  Dan hari sebelum mereka sampai ke puncak Everest terjadi badai yang sangat kencang disertai  hujan es yang menghambat perjalanan mereka. Ketegangan mulai terjadi disini, badai itu menghantam tubuh mereka, mereka pun terpental cukup jauh, terpisah dari rombongan nya, beberapa dari mereka tidak sanggup lagi melakukan perjalanan sampai ke Puncak Everest. Dan siapa sajakah yang berhasil sampai ke Puncak Everest dengan selamat? Dan siapakah yang kembali ke Base Camp dengan keadaan Hidup

Saya hanya mereview dua orang dari 13 pendaki karena mereka yang mengalami kejadian sangat hebat , ada beberapa anggota juga mengalami kelelahan, karena kurangnya oksigen . Film Everest 3D IMAX sangat layak ditonton,  landscape cinematography oleh Salvatore Tortino membuat mata penonton ikut merasakan ketegangan saat mereka sampai dipuncak bahkan mereka harus kembali ke base camp 

Overall : 7.5/10


Comments

Popular posts from this blog

REVIEW : HOMESTAY ( THAILAND MOVIE 2019 )

HOMESTAY (Thailand Movie 2019 ) Directed :Parkpoom Wongpoom Starring : Teeradon Supapunpinyo, Cherprang Areekul, Suquan Bulakul Production : GDH  Runtime : 131 Minutes Mengadaptasi dari novel dan diadaptasi pada anime jepang tahun 2010 berjudul "Colorful" karya Eto Mori, dengan cerita yang sangat menarik bahkan mendapatkan pujian para kritikus begitu mengena hati penonton, nah tahun 2019 salah satu sutradara Thailand - Parkpoom Wongpoom (Shutter, Alone, Bad Genius )  mencoba mengarap dalam live action berjudul " Homestay " ber genre drama romantis plus bumbu sedikit horor dengan tetap pada koridor anak remaja. Film ini dirilis Tahun 2018 bulan Oktober menduduki Box Office urutan pertama dengan penghasilan 37.49 Juta Baht (= -+ Rp 1.677.655.944.48,-) diawal minggu pertama tak heran jika di Thailand mendapatkan sambutan sangat luar biasa, dan kesempatan ini diambil oleh pihak distributor di Indonesia untuk tayang di jaringan CGV,Cinemaxx Theater. Dal

Review Take Me Home

Take Me Home  Genre Suspense/ Horror Released Date 11 Mei 2016 Distributor  / Sales Representative : M Pictures Co., Ltd Casting :  Mario Maurer / Wannarot Sonthichai / Peter Noppachai / Producer ; Kanyarat Jiraratchakit Director : Kongkiat Khomsiri Negeri  Gajah Putih ini selalu bisa memberikan tontonan Horor yang tidak mudah ditebak oleh penonton, masih dengan gaya yang khas sinematography mereka. Film ini masih bisa dibilang membuat jantungan yang menontonnya, dari segi kostum , dekorasi bahkan lokasi yang dijadikan punya sangat tepat . Apalagi kehadiran wajah tampan Mario Maurer masih menjadikan film thailand di nanti-nanti oleh pengemarnya. Tan ( Mario Maurer ) , koma setelah kecelakan yang menimpanya sejak 10 tahun yang lalu, saat ini dia berada di sebuah Rumah Sakit dan bekerja disana. Namun kerinduan asal usulnya membuat dia mencari keberadaan keluarganya. Setelah mengetahuinya  Tan mendatangi rumah yang tertera difoto yang dia temukan di bangsal Rumah Sak

REVIEW : DIGNITATE (2020)

DIGNITATE Sutradara : Fajar Nugros Produksi : MD Pictures Durasi : 109 Minutes Apakah yang menjadi dasar sutradara menulis ulang dari kisah yang sukses dalam sebuah Wattpad, mereka ingin tidak sekedar berimajinasi tapi bisa melihat secara jelas apa yang telah mereka baca selama ini. Banyak penulis-penulis muda di Wattpad yang akhirnya masuk dalam layar lebar salah satunya Dignitate karya Hana Margaretha sukses secara pasaran, disukai banyak kawula muda dengan cerita masa kini, cocok dan mengena pada sasaran. Kesempatan baik ini langsung diambil alih oleh sutradara Fajar Nugros menjadi sebuah cerita yang menarik, jayus, lucu dan punya nilai tersendiri. Sebagai Produser MD, Manoj Punjabi disela-sela Premiere Diginate beberapa waktu lalu di Epicentrum – Jakarta, mengatakan : “ Anak remaja sekarang sudah mengerti film bagus bermutu dalam penyanjiannya, ntah apakah film itu dalam sebuah drama, komedi atau horror sekalipun, saya percaya bahwa film ini akan diterima oleh semua re