Skip to main content

REVIEW : Film Kung Fu Soccer (2026)

 

Kung Fu Soccer (2026) menjadi salah satu film yang cukup menarik perhatian karena digarap oleh Stephen Chow, sutradara yang dikenal lewat film-film komedi dengan gaya yang unik dan absurd. Dari judulnya saja, kita sudah bisa membayangkan perpaduan antara sepak bola dan kung fu yang tidak masuk akal, tetapi justru menjadi daya tarik utama film ini. Film ini bercerita tentang tim sepak bola wanita Emei yang awalnya tidak terlalu diperhitungkan. Mereka harus menghadapi turnamen bergengsi Supreme Invincible Cup. Dengan kondisi tim yang penuh masalah dan dianggap sebelah mata, perjuangan mereka untuk membuktikan kemampuan menjadi inti dari cerita. Kalau dilihat dari ceritanya, sebenarnya tidak terlalu istimewa. Polanya cukup familiar, yaitu tentang orang-orang yang awalnya hebat tetapi sombong, kemudian mengalami masalah dan akhirnya sadar bahwa mereka tidak bisa berjalan sendiri. Mereka harus belajar bekerja sama sebagai sebuah tim untuk mencapai kemenangan. Namun, menurut saya, kekuatan utama film ini bukan pada ceritanya. Justru yang membuat saya terhibur adalah banyolan khas Stephen Chow. Banyak adegan yang sengaja dibuat berlebihan, aneh, dan tidak masuk akal. Kadang kita tahu adegannya konyol, tetapi tetap saja bisa membuat tertawa. Perpaduan sepak bola dengan jurus kung fu juga menjadi salah satu bagian yang paling menyenangkan. Tendangan, gerakan tubuh, dan berbagai aksi di lapangan dibuat seperti pertarungan kung fu. Logikanya memang tidak perlu dipikirkan terlalu serius. Film ini memang dibuat untuk bersenang-senang. Buat saya, Kung Fu Soccer tidak perlu dibandingkan terlalu keras dengan Shaolin Soccer (2001). Memang keduanya mempunyai konsep yang mirip dan sama-sama membawa gaya komedi Stephen Chow. Tetapi film terbaru ini mencoba menghadirkan cerita dan karakter yang berbeda dengan skala produksi yang jauh lebih besar. Salah satu hal yang cukup terasa adalah penggunaan efek visual yang sangat banyak. Beberapa adegan terlihat spektakuler dan modern. Tetapi di beberapa bagian, efek tersebut justru terasa terlalu ramai sehingga sedikit mengurangi kesan sederhana dan spontan yang dulu menjadi salah satu kekuatan Shaolin Soccer. Meski begitu, saya tetap menikmati film ini. Ada beberapa adegan yang mungkin terasa berlebihan bagi sebagian penonton, tetapi justru bagi penggemar Stephen Chow, hal seperti inilah yang dicari. Ekspresi wajah, gerakan tubuh, dialog, sampai situasi yang tidak terduga menjadi sumber komedinya. Saya juga cukup suka dengan perjalanan para pemainnya. Awalnya mereka lebih memikirkan diri sendiri dan ingin menunjukkan siapa yang paling hebat. Setelah mengalami berbagai kejadian, mereka akhirnya mulai memahami bahwa kemampuan individu saja tidak cukup untuk memenangkan pertandingan.

 

Pesan tentang kerja sama tim sebenarnya sederhana, bahkan bisa dibilang klise. Tetapi pesan tersebut tetap berhasil disampaikan dengan cara yang ringan. Kita tidak perlu mendapatkan pelajaran hidup yang terlalu serius dari film ini karena sejak awal Kung Fu Soccer memang lebih mengutamakan hiburan. Secara keseluruhan, film ini memang bukan film dengan cerita yang sangat dalam. Ada bagian yang terasa klise dan beberapa adegan yang mungkin terasa berantakan. Namun, saya tidak terlalu mempermasalahkannya karena tujuan utama saya menonton film seperti ini adalah untuk mendapatkan hiburan dan tertawa. Bagi saya pribadi, Kung Fu Soccer berhasil memberikan hiburan yang saya harapkan. Banyolan khas Stephen Chow masih menjadi daya tarik terbesar, sementara perpaduan kung fu dan sepak bola membuat pertandingan terasa berbeda dari film olahraga biasa. Walaupun tidak sempurna, saya cukup menikmati film ini dan memberikan nilai 8,5/10. Kalau Anda suka humor absurd Stephen Chow dan tidak terlalu mempermasalahkan cerita yang sederhana, film ini cukup layak untuk ditonton. Tayang mulai tanggal 12 Agustus 2026 di bioskop kesayangan anda.

 




Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM HOUSEMAID 2025, Tampil Dalam Cerita Penuh Kejutan

The Housemaid (2025)  Genre: Thriller psikologis / drama Sutradara: Paul Feig Diadaptasi dari novel: The Housemaid karya Freida McFadden Pemeran utama: Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar Ringkasan Cerita Millie, seorang perempuan yang baru keluar dari penjara, mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah milik keluarga Winchester yang kaya  raya. Awalnya pekerjaan ini tampak seperti kesempatan kedua untuk menata hidup. Namun perlahan, atmosfer rumah tersebut berubah mencekam. Rahasia, manipulasi, dan relasi kuasa yang timpang mulai terkuak, menghancurkan ilusi kehidupan kelas atas yang tampak sempurna. Menariknya dari film ini , saya pikir remake film korea karena tidak membaca detil kalau film ini  berdasarkan novel 2022 dengan nama yang sama oleh Freida McFadden. Film tersebut dibintangi oleh Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar. termasuk dalam katagori 17+ ada adegan dewasa, harap sangat bijak untuk menontony...

REVIEW : AFTER BURN 2025, Aksi Pencurian Mahakarya Monalisa

  Melihat trailernya kita akan berekspektasi film bakalan super wah dengan segala aksinya, justru ekspektasi tersebut harus dipendam dulu nanti akan menyesal, dalam film kelas B tidak dituntut banyak kita harus berpikir panjang semua berjalan sesuai skenario saja. Hal ini kita membuat santai dalam menikmati filmnya. Dalam pemilihan aktor biasanya ada yang terkenal demi menarik penonton untuk datang ke bioskop, tapi penokohannya kembali dari sutradara dan penulis cerita seperti yang dilakukan oleh J.J Perry , sebagai aktor beladiri yang berkecimpung lama dan menyutradarai beberapa film aksi, tak heran tema yang diambil dari apa yang dia telah bintangi sebagai aktor, The Killers Game dan The Day Shift cukup baik dipasaran, tahun 2025 film terbarunya After Burn , berlatar belakang jaman distopia pasca dunia dalam kehancuran. Dimulai ketika Jake (Dave Bautista) seorang penyitas dan pemburu harta karun tak pernah gagal dalam segala misinya. Ketika tugas mencari biola tertua dan antik d...