By Any Means sebuah film thriller sejarah Amerika disutradarai oleh Elegance Bratton (dikenal lewat The Inspection) dan ditulis oleh Sascha Penn. Film ini diproduksi oleh Paramount Pictures dan terinspirasi dari kisah nyata. Ceritanya berlatar Mississippi tahun 1966, era paling gelap gerakan hak sipil Amerika. Yahya Abdul-Mateen II (Wayne Strider), seorang agen FBI muda kulit hitam yang dikirim untuk menyelidiki serangkaian pembunuhan brutal yang menargetkan para aktivis hak sipil. Sebagai agen kulit hitam di institusi yang didominasi kulit putih, di tengah wilayah yang penuh kebencian rasial, karakter Strider membawa beban ganda, ia harus menegakkan hukum sekaligus menghadapi risiko personal yang jauh lebih besar dibanding rekan-rekannya. Di sisi lain, Mark Wahlberg (Greg Scarpa), seorang pembunuh bayaran mafia kenamaan yang dipaksa bekerja sama dengan Strider dalam penyelidikan ini. Scarpa adalah sosok dari dunia kriminal terorganisir bukan penegak hukum, bukan pula aktivis yang punya cara kerja sendiri: kasar, pragmatis, dan tidak terikat prosedur resmi. Kehadirannya menghadirkan kontras tajam dengan Strider yang bekerja dalam batas-batas institusi. Dua pria yang dipisahkan oleh ras, latar belakang, dan prinsip moral ini harus bersatu demi satu tujuan memburu dan menumpas anggota Ku Klux Klan yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Dinamika Strider dan Scarpa inilah yang menjadi jantung cerita: satu sisi mewakili sistem yang mencoba bekerja secara sah meski dibatasi rasisme struktural, sisi lain mewakili jalan pintas di luar hukum yang sering kali lebih "efektif" tapi juga lebih berbahaya secara moral. Jajaran pemain pendukungnya cukup kuat: Nicole Beharie, Giancarlo Esposito, Josh Lucas, David Strathairn, LisaGay Hamilton, dan LaChanze. Dengan sinematografi digarap oleh Ante Cheng, film ini diperkirakan punya visual yang kelam dan atmosferik, sesuai suasana Mississippi era Jim Crow.
Judul film ini sendiri mengutip frasa terkenal Malcolm X, "by any means necessary", sebuah isyarat kuat bahwa film ini akan mempertanyakan batas antara hukum dan keadilan lewat hubungan kerja sama Strider dan Scarpa. Ketika institusi resmi gagal melindungi warganya, sampai sejauh mana kekerasan balasan termasuk cara-cara Scarpa yang berada di luar hukum bisa dibenarkan?.Tema ini membuat By Any Means terasa relevan meski berlatar hampir 60 tahun lalu. Chemistry Wahlberg dan Abdul-Mateen II diharapkan menjadi kekuatan utama film, mengingat keduanya harus membangun kepercayaan di tengah perbedaan yang begitu tajam : ras, profesi, dan cara pandang terhadap keadilan itu sendiri.Film ini mendapat rating R karena kekerasan grafis dan bahasa kasar yang intens, jadi penonton perlu bersiap dengan adegan yang cukup keras wajar mengingat karakter Scarpa berasal dari dunia mafia dan konflik yang dihadapi Strider penuh kekerasan rasial. Jangan berekspektasi cukup tinggi, terutama untuk melihat bagaimana Abdul-Mateen II membawakan kerentanan dan tekanan psikologis seorang agen kulit hitam di lingkungan bermusuhan, serta bagaimana Wahlberg menghidupkan sosok Scarpa yang moralnya abu-abu, ikuti alurnya bagaimana kaum KKK dengan mudahnya membunuh orang kulit hitam walaupun hanya 2 adegan saja namun cukup membuat bukti dan bagaimana scrapa mencari informasi dengan caranya bahkan diakhir credit titel terungkap sebenarnya penegak hukum melakukan cara seperti dalam film karena sudah terlalu kuat peran pemerintah setempat menghalangi semua kekerasan kulit putih lantarana beda pandangan visi misi, founding father mereka sudah menghapuskan budak kulit hitam rasanya tidak rela hal ini terjadi.
Kesimpulannya, By Any Means tampak sebagai film yang berani mengangkat pertanyaan moral sulit lewat dua karakter yang saling bertolak belakang: Wayne Strider yang berpegang pada institusi meski institusi itu sendiri cacat, dan Greg Scarpa yang bergerak di luar sistem demi hasil cepat. Duet akting Abdul-Mateen II dan Wahlberg, ditambah arahan sutradara yang punya sensitivitas emosional kuat, berpotensi menjadikan film ini salah satu thriller sejarah paling diperbincangkan tahun ini, Saksikan film ini tayang mulai tanggal 2 September 2026 dib Bioskop kesayangan anda dikala masa setelah jakarta dilanda demo bulan akhir agustus ini, sebagai refleksi apakah rasisme harus dengan kekerasan pula supaya tak ada lagi polemik berkepanjangan sampai akhir jaman. Overall : 7,5/10.

.png)
.png)
Comments
Post a Comment