Skip to main content

REVIEW FILM : OPERASI PESTA COPET

Operasi Pesta Copet datang seperti angin kencang di tengah festival musik yang ramai. Empat sahabat Ijal, Adut, Tia, dan Melodi bukan pahlawan, hanya orang-orang biasa yang terhimpit utang dan PHK. Mereka memutuskan mengambil risiko gila mencopet di tengah Pestapora, festival musik terbesar, sambil menyamar sebagai penonton biasa. Di layar, kita langsung diajak berdiri di antara kerumunan. Suara bass yang bergemuruh, keringat yang menetes, dan tangan-tangan yang saling bersenggolan terasa dekat sekali. Setiap gerakan mereka yang canggung sekaligus cerdik membuat kita ikut menahan napas, seolah-olah dompet kita sendiri yang sedang menjadi target. Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal membawa ketegangan yang halus gestur kecil dan tatapan waspada yang menunjukkan seseorang yang sebenarnya tidak nyaman dengan apa yang sedang ia lakukan. Kristo Immanuel sebagai Adut menyuntikkan kelucuan yang tidak dibuat-buat, sering menjadi katup pelepas ketegangan di momen paling genting. Zulfa Maharani dan Kawai Labiba melengkapi dinamika itu dengan chemistry yang hangat dan realistis, membuat keempatnya terasa seperti kelompok pertemanan yang benar-benar pernah hidup bersama, bukan sekadar dipertemukan naskah. Terutama Kawai Labiba dapat mempresentasikan anak punk rock sebagai Melodi sangat bagus tanpa disadari darah itu mengalir begitu saja dengan musik.
Film debut Edy Khemod ini punya napas yang mirip Alangkah Lucu Negeriku: menyoroti orang-orang pinggiran dengan cara yang satiris, tanpa menggurui. Kritik sosialnya datang lewat tawa, lewat kejar-kejaran yang kacau, dan lewat keputusan-keputusan nekat yang terasa sangat manusiawi. Meski ada plot hole, kematangan karakter berhasil menutupinya. Aksi keempat tokoh utama begitu hidup sampai lubang cerita terasa kecil penonton lebih sibuk ikut lari bersama mereka ketimbang menghitung logika cerita. Setiap adegan di tengah festival pesta pora terasa seperti kita ikut berdiri di barisan penonton. Hati berdegup saat tangan mereka meraih, saat petugas keamanan lewat, saat rencana mulai goyah. Tawa muncul spontan, tapi di baliknya ada rasa pahit yang tertinggal sensasi itu yang membuat film ini lebih dari sekadar komedi heist biasa. Persahabatan menjadi jangkar cerita. Di tengah rencana gila itu, kita melihat bagaimana mereka saling menopang, saling menertawakan kegagalan sendiri, dan tetap bertahan. Momen-momen kecil itu bukan adegan aksi besar justru yang paling mengena dan diingat setelah film usai. Satirnya tidak keras, tapi menusuk pelan. Tentang bagaimana sistem bisa mendorong orang biasa mengambil jalan yang salah. Tentang festival yang meriah di permukaan, sementara di bawahnya ada yang bertahan hidup dengan cara yang berbahaya. Edy Khemod tidak perlu berteriak untuk menyampaikan kritiknya; ia cukup membiarkan keempat karakter ini bertindak, dan penonton yang menyimpulkan sendiri.
Secara teknis, sinematografi yang mengikuti gerak-gerik mereka di antara kerumunan padat berhasil menciptakan rasa klaustrofobia sekaligus euforia festival itu sendiri—dua perasaan yang biasanya sulit disatukan dalam satu adegan, tapi berhasil dieksekusi dengan mulus di sini. Pada akhirnya, Operasi Pesta Copet berhasil membuat kita tersenyum sambil menghela napas. Film yang ringan di permukaan, tapi meninggalkan pertanyaan kecil yang menempel lama setelah lampu bioskop menyala: bukan sekadar tentang copet dan festival, melainkan tentang berapa banyak Ijal, Adut, Tia, dan Melodi lain di luar sana yang terpaksa mengambil jalan pintas hanya untuk bertahan hidup satu hari lagi, Film ini tayang mulai tanggal 27 Agustus 2026 di bioskop kesayangan anda, Project dari Imajinari kreatif dalam mengelola naskah menjadi cerita sangat baik. Overall : 7.5/10


Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM HOUSEMAID 2025, Tampil Dalam Cerita Penuh Kejutan

The Housemaid (2025)  Genre: Thriller psikologis / drama Sutradara: Paul Feig Diadaptasi dari novel: The Housemaid karya Freida McFadden Pemeran utama: Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar Ringkasan Cerita Millie, seorang perempuan yang baru keluar dari penjara, mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah milik keluarga Winchester yang kaya  raya. Awalnya pekerjaan ini tampak seperti kesempatan kedua untuk menata hidup. Namun perlahan, atmosfer rumah tersebut berubah mencekam. Rahasia, manipulasi, dan relasi kuasa yang timpang mulai terkuak, menghancurkan ilusi kehidupan kelas atas yang tampak sempurna. Menariknya dari film ini , saya pikir remake film korea karena tidak membaca detil kalau film ini  berdasarkan novel 2022 dengan nama yang sama oleh Freida McFadden. Film tersebut dibintangi oleh Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar. termasuk dalam katagori 17+ ada adegan dewasa, harap sangat bijak untuk menontony...

REVIEW FILM : LOVE BARISTA, Cinta Lewat Sruputan Kopi Vietnam

  Love Barista mencoba menghadirkan komedi romantis lintas budaya dengan mempertemukan Korea Selatan dan Vietnam. Premisnya cukup menarik, seorang aktor Korea yang sedang terpuruk harus bertahan hidup di Vietnam hingga bertemu seorang barista berbakat yang perlahan mengubah hidupnya. Yang langsung terasa sejak awal adalah suasana Vietnam yang ditampilkan dengan hangat. Jalanan, kafe, hingga budaya kopinya menjadi nilai tambah yang membuat film terasa nyaman dinikmati, bahkan ketika ceritanya berjalan santai. Lee Kwang-soo kembali mengandalkan kemampuan komedinya yang sudah dikenal banyak orang. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tingkah kikuknya masih mampu mengundang tawa tanpa harus berlebihan. Bagi penggemarnya, inilah alasan utama untuk datang ke bioskop. Hoang Ha juga tampil cukup natural sebagai Thao . Karakternya sederhana, hangat, dan mudah disukai. Interaksi keduanya yang menggunakan bahasa Korea, Vietnam, dan sedikit bahasa Inggris justru menjadi salah satu bagian yang me...