Skip to main content

Review : ANT-MAN & THE WASP

ANT-MAN & THE WASP 
Directed : Peyton Reed
Starring : Paul Rudd, Michael Douglas, Evangeline lily, Micheal Pena
Production : Marvel Studios
Runtime : 1h58m

Sudah banyak yang memberikan review positif untuk film ini, walaupun pendapatan awal tidak se-booming Avengers Infinity War saaat artikel ini ditulis US$ 14,6 Million dari budjet sekitar US$ 130 Million namun fans sejati Marvel sudah menunggu film ini sejak lama, cerita dengan pendekatan ke remaja dan anak-anak dimana sangat berbeda dengan Deadpool sangat konyol tapi banyak mengandung konten dewasa. Kenapa para die hard MCU begitu menunggu Ant Man & The Wasp ? sebuah pertanyaan penting akan terjawab di akhir film ini. Semua terkoneksi dalam cerita yang sangat mendetil,secara sinematography tiap scene menceritakan flashback dan present day. Ya, tanpa disadari penonton diajak secara langsung mengenal The WASP, kita sudah mengenal Ant-Man sejak film pertama justru karakter The WASP di jelaskan misi dan keberadaanya seolah-olah Ant-Man menjadi second character yang berawal dari kejadian penluncuran misil Rusia tahun 1987 mengakibatkan Jane Van Dyne (Michelle Pffieffer) masuk dalam dimensi Quantum Realm membuat dia tidak dapat kembali lagi,  Hope ( Evangeline Lily ) merasa Ant-Man (Paul Rudd) bisa membantu menyelamatkan ibunya dengan bantuan alat yang mampu masuk ke "lorong " Quantum, namun alat tersebut berada di tangan Sonny Bruch (Walton Googins) seorang Dealer Black Market, setelah mencoba deal justru muncul kehadiran "Ghost "(Hannah John Kamen ) mengambil alat tersebut, sosok yang mampu menghilang dan tak dapat di deteksi secara cepat. Kejadian ini membuat Ant-Man harus mencari jalan mengambil alat tersebut di tangan Ghost, tapi siapakah sebenarnya Ghost ini ? mengapa ada hubunganya dengan partner lama Hank Pym ( Michael Douglas) saat berada di SHIELD - Bill Foster (Laurence Fishburne ) ?
 
Memang tidak ada yang mengejutkan selama film ini berlangsung, tidak sesuatu yang istimewa dibandingkan yang pertama dalam aksinya namun detil ceritanya yang membuat film ini menarik diikuti bahkan lelucon-lelucon cukup membuat penonton tertawa, penampilan akting Hannah John Kamen aka Ava Starr ( Ghost ) sangat menarik ddibandingkan aktor utamanya , chemistry antagonist sangat baik. Sepertinya Peyton Reed tidak terlalu sukar mengdirecting para pemain karena sebelumnya mereka sudah ditangani. Yang menarik SFX & VFX sangat rapi wajah Michael Douglas dan Michelle Pffieffer saat masih muda, sayangnya ada berapa reviewer & kritikus menilai film ini tak perlu ada sequel karena bertele-tele, kualitas akting jauh dibawah film pertama seperti tak ada yang memorable dan berantakan terkesan Clichee. Rasanya boleh-boleh saja toh memberikan penilain yang kurang baik tapi bagi yang mencari detil cerita Ant-Man akan menemukan penjelasan kenapa dia tidak berada di Avangers Infinty War terjawab sudah. Dan yang lebih penting dari ceritanya pesan yang disampaikan bahwa keluarga sangat berharga apapun masalah yang mereka hadapi harus diselesaikan secara bersama-sama bahkan orang lain yang dianggap menjadi keluargapun juga mendapatkan pertolongan yang sama, dari sekian film MCU Ant-Man termasuk film yang ringan dan mdah di pahami kecuali rumus-rumus Quantum fisika bagi anak-anak agak sulit dimengerti.
 
ANTMAN & THE WASP telah hadir sejak tanggal 4 Juli 2018 di  Bioskop Indonesia, jangan beranjak dulu hingga film selesai karena 2 scene sangat penting untuk disaksikan. Sebuah aksi yang sangat menghibur jangan dilewatkan begitu saja.

Overall : 8/10

Comments

Popular posts from this blog

REVIEW : HOMESTAY ( THAILAND MOVIE 2019 )

HOMESTAY (Thailand Movie 2019 ) Directed :Parkpoom Wongpoom Starring : Teeradon Supapunpinyo, Cherprang Areekul, Suquan Bulakul Production : GDH  Runtime : 131 Minutes Mengadaptasi dari novel dan diadaptasi pada anime jepang tahun 2010 berjudul "Colorful" karya Eto Mori, dengan cerita yang sangat menarik bahkan mendapatkan pujian para kritikus begitu mengena hati penonton, nah tahun 2019 salah satu sutradara Thailand - Parkpoom Wongpoom (Shutter, Alone, Bad Genius )  mencoba mengarap dalam live action berjudul " Homestay " ber genre drama romantis plus bumbu sedikit horor dengan tetap pada koridor anak remaja. Film ini dirilis Tahun 2018 bulan Oktober menduduki Box Office urutan pertama dengan penghasilan 37.49 Juta Baht (= -+ Rp 1.677.655.944.48,-) diawal minggu pertama tak heran jika di Thailand mendapatkan sambutan sangat luar biasa, dan kesempatan ini diambil oleh pihak distributor di Indonesia untuk tayang di jaringan CGV,Cinemaxx Theater. Dal

Review Take Me Home

Take Me Home  Genre Suspense/ Horror Released Date 11 Mei 2016 Distributor  / Sales Representative : M Pictures Co., Ltd Casting :  Mario Maurer / Wannarot Sonthichai / Peter Noppachai / Producer ; Kanyarat Jiraratchakit Director : Kongkiat Khomsiri Negeri  Gajah Putih ini selalu bisa memberikan tontonan Horor yang tidak mudah ditebak oleh penonton, masih dengan gaya yang khas sinematography mereka. Film ini masih bisa dibilang membuat jantungan yang menontonnya, dari segi kostum , dekorasi bahkan lokasi yang dijadikan punya sangat tepat . Apalagi kehadiran wajah tampan Mario Maurer masih menjadikan film thailand di nanti-nanti oleh pengemarnya. Tan ( Mario Maurer ) , koma setelah kecelakan yang menimpanya sejak 10 tahun yang lalu, saat ini dia berada di sebuah Rumah Sakit dan bekerja disana. Namun kerinduan asal usulnya membuat dia mencari keberadaan keluarganya. Setelah mengetahuinya  Tan mendatangi rumah yang tertera difoto yang dia temukan di bangsal Rumah Sak

REVIEW : DIGNITATE (2020)

DIGNITATE Sutradara : Fajar Nugros Produksi : MD Pictures Durasi : 109 Minutes Apakah yang menjadi dasar sutradara menulis ulang dari kisah yang sukses dalam sebuah Wattpad, mereka ingin tidak sekedar berimajinasi tapi bisa melihat secara jelas apa yang telah mereka baca selama ini. Banyak penulis-penulis muda di Wattpad yang akhirnya masuk dalam layar lebar salah satunya Dignitate karya Hana Margaretha sukses secara pasaran, disukai banyak kawula muda dengan cerita masa kini, cocok dan mengena pada sasaran. Kesempatan baik ini langsung diambil alih oleh sutradara Fajar Nugros menjadi sebuah cerita yang menarik, jayus, lucu dan punya nilai tersendiri. Sebagai Produser MD, Manoj Punjabi disela-sela Premiere Diginate beberapa waktu lalu di Epicentrum – Jakarta, mengatakan : “ Anak remaja sekarang sudah mengerti film bagus bermutu dalam penyanjiannya, ntah apakah film itu dalam sebuah drama, komedi atau horror sekalipun, saya percaya bahwa film ini akan diterima oleh semua re