Skip to main content

Review San Andreas 2015


 San Andreas 2015
 Director : Brad Peyton
 Cast : Dwayne "The Rock" Johnson, Carla Gugino,Alexandra Daddario



Brad Peyton, sutradara yang lahir di Canada 34 tahun lalu tergolong masih muda, dia terkenal saat mensutradarai film sebelumnya Journey to Center of the Earth ( Mysterious Island ), pendapat worldwide sangat besar $325,860,290 masih dengan aktor yang sama Dwayne "The Rock" Johnson .
kembali ditahun 2015 mengusung tema disaster movie San Andreas . Tahun 2011 saat NewLine Cinema mengembangan disaster movie namun tahun 2013 baru terlaksana ide tersebut terbentur skrip serta lokasi filmnya, Dwayne sudah di kontrak sebagai peran utama satun tahun kemudian , dan  pengambilan suting sebagian di Australia & San Fransisco tahun 2014 hanya beberapa bulan saja menyelesaikan film ini dengan bujet US$ 100 Million

Dwayne "The Rock" Johnson  berperan sebagai Ray Gaines ,seorang pilot helicopter penyelamat dari  Fire Departement Rescue ( FDR)  Los Angles ketika bertugas menyelematkan gadis saat mengendarai mobil terkena longsoran tebing jatuh ke jurang di lembah sanggat curam , aksi heroiknya membuat si gadis tersebut selamat. Sebagai seorang kepala rumah tangga yang sedang mengalami masa penceraian dengan istrinya Emma ( Carla Gugino ) mempunyai satu anak gadis remaja Blake ( Alexandra Daddario ) tinggal bersama ayah tirinya Daniel ( Loan Gruffudd) pengusaha sukses real estate ternama di Los Angles , Ray merasa sebagai ayah tetap punya tanggung jawab untuk anak satu-satunya. Daniel meyakinkan Emma sebagai ayah tiri tidak bisa mengantikan hubungan ayah dan anak, dia berusaha semaksimal mungkin. Saat perjalanan tugas Ray mendapatkan berita  terjadi gempa tektonik mengakibatkan gempa susulan sangat besar mengancam daerah Los Angles serta berujung ke daerah San Fransisco, seorang ilmuwan lokal Lawrence ( Paul Giamatti ) memperkirakan akan ada gempa terdasyat sepanjang sejarah dunia 9,2 Skala Ritcher, ketika dia berserta salah satu tim menyelidiki gempa tektonik Bendungan Hoover namun apadaya teman Lawrence tak bisa menghindari bencana gempa seketika terjadi, disaat bersamaan Emma ditemanin oleh dua cowok yang baru dikenalnya berusaha menuju daerah yang lebih tinggi mengindarinya berbekal pengetahuan dari sang ayah ,mereka bertiga menuju menara Coit untuk mencari menunggu bantuan namun ditengah perjalanan mendengar bencana Tsunami justru mengancam daerah San Fransisco sekitarnya, Ray berusaha bagaimana bisa menyelamatkan anak gadis dari bencana tersebut.

Inilah yang diharapkan sang sutradara Brad Peyton,penonton dibawa ke suasana mencekam dari awal film, special effect lebih baik dikerjakan oleh team menyempurkan film disaster sebelumnya, kehancuran gedung gedung bertingkat dengan scoring music dari Andrew Lockington makin membuat keringat dingin-berdebar debar saat menontonnya , tiap karakter pemain memberikan nilai tersendiri menjadikan film ini benar-benar sangat layak ditonton  bersama keluarga

 Apakah si ayah (Ray) sanggup menyelamatkan Emma  ? 
 Bagiamana nasib Emma ? 


Sepeti film disaster sebelumnya Daylight,Volcano,Dante Peaks, Twister, 2012 - San Andreas masih membuktikan film dengan tema disaster merupakan salah film pilihan tahun ini . San Andreas Tayang Jumat tanggal 29 Mei 2015 di seluruh bioskop  XX1,21,Blitzmegaplex,Cinemaxx
Overall 8/10

Comments

Popular posts from this blog

REVIEW : HOMESTAY ( THAILAND MOVIE 2019 )

HOMESTAY (Thailand Movie 2019 ) Directed :Parkpoom Wongpoom Starring : Teeradon Supapunpinyo, Cherprang Areekul, Suquan Bulakul Production : GDH  Runtime : 131 Minutes Mengadaptasi dari novel dan diadaptasi pada anime jepang tahun 2010 berjudul "Colorful" karya Eto Mori, dengan cerita yang sangat menarik bahkan mendapatkan pujian para kritikus begitu mengena hati penonton, nah tahun 2019 salah satu sutradara Thailand - Parkpoom Wongpoom (Shutter, Alone, Bad Genius )  mencoba mengarap dalam live action berjudul " Homestay " ber genre drama romantis plus bumbu sedikit horor dengan tetap pada koridor anak remaja. Film ini dirilis Tahun 2018 bulan Oktober menduduki Box Office urutan pertama dengan penghasilan 37.49 Juta Baht (= -+ Rp 1.677.655.944.48,-) diawal minggu pertama tak heran jika di Thailand mendapatkan sambutan sangat luar biasa, dan kesempatan ini diambil oleh pihak distributor di Indonesia untuk tayang di jaringan CGV,Cinemaxx Theater. Dal

Review Take Me Home

Take Me Home  Genre Suspense/ Horror Released Date 11 Mei 2016 Distributor  / Sales Representative : M Pictures Co., Ltd Casting :  Mario Maurer / Wannarot Sonthichai / Peter Noppachai / Producer ; Kanyarat Jiraratchakit Director : Kongkiat Khomsiri Negeri  Gajah Putih ini selalu bisa memberikan tontonan Horor yang tidak mudah ditebak oleh penonton, masih dengan gaya yang khas sinematography mereka. Film ini masih bisa dibilang membuat jantungan yang menontonnya, dari segi kostum , dekorasi bahkan lokasi yang dijadikan punya sangat tepat . Apalagi kehadiran wajah tampan Mario Maurer masih menjadikan film thailand di nanti-nanti oleh pengemarnya. Tan ( Mario Maurer ) , koma setelah kecelakan yang menimpanya sejak 10 tahun yang lalu, saat ini dia berada di sebuah Rumah Sakit dan bekerja disana. Namun kerinduan asal usulnya membuat dia mencari keberadaan keluarganya. Setelah mengetahuinya  Tan mendatangi rumah yang tertera difoto yang dia temukan di bangsal Rumah Sak

REVIEW : DIGNITATE (2020)

DIGNITATE Sutradara : Fajar Nugros Produksi : MD Pictures Durasi : 109 Minutes Apakah yang menjadi dasar sutradara menulis ulang dari kisah yang sukses dalam sebuah Wattpad, mereka ingin tidak sekedar berimajinasi tapi bisa melihat secara jelas apa yang telah mereka baca selama ini. Banyak penulis-penulis muda di Wattpad yang akhirnya masuk dalam layar lebar salah satunya Dignitate karya Hana Margaretha sukses secara pasaran, disukai banyak kawula muda dengan cerita masa kini, cocok dan mengena pada sasaran. Kesempatan baik ini langsung diambil alih oleh sutradara Fajar Nugros menjadi sebuah cerita yang menarik, jayus, lucu dan punya nilai tersendiri. Sebagai Produser MD, Manoj Punjabi disela-sela Premiere Diginate beberapa waktu lalu di Epicentrum – Jakarta, mengatakan : “ Anak remaja sekarang sudah mengerti film bagus bermutu dalam penyanjiannya, ntah apakah film itu dalam sebuah drama, komedi atau horror sekalipun, saya percaya bahwa film ini akan diterima oleh semua re