Terlepas dari novel fiksi karya Lenn Liu film Rumah Untuk Alie ini memberikan gambaran bagaimana salah satu trauma individu yang dialami hampir setiap kita, ntah hanya guyonan, candaan hingga menjurus perundungan fisik, sekecill apapun bentuk akan melekat di dalam diri kita hingga masa tua nanti. Tanpa disadari semua terekam dibawah alam sadar disaat kita sendirian muncul memori memori tersebut membuat pikiran, perasaan berkecamuk berproses mulai dari depresi berat dan berujung gila atau bunuh diri. Saat nobar bersama dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi di XXI Plaza Senayan tanggal 16 April 2025, merasakan sebuah kesan sentuhan mendalam ketika film ini diputar, pada press confrence singkat “Saya berharap tidak ada lagi Alie- Alie lain, kapanpun, dimanapun di seluruh Indonesia. Lewat film ini kita bisa berinstropeksi, apakah rumah kita bisa memberikan kenyamanan bagi anak-anak, Apa yang dialami Alie dalam film ini bisa jadi dialami oleh banyak anak di luar sana. Bullying, apalagi yang terjadi di rumah, bisa melukai sangat dalam dan meninggalkan trauma panjang. Mari kita jadikan rumah sebagai tempat aman, bukan medan luka,”
Alie hidup antara 2 keluarga sebenarnya namun saat masih kecil tak sengaja mamanya mengalami kecelakan hingga tak terselamatkan, sejak hari itu Alie kecil mengalami perudungan setiap hari terlebih kakak tiri mereka merasakan sakit hati lantaran ibunya meninggal karena ulah Alie. Tak hanya di rumah,di sekolahpun Alie mengalami perudungan oleh teman-teman sebayanya, dari motif tidak jelas hingga masalah cowok. Alie berada posisi semua serba salah, kehadirannya hanya bikin masalah baru bagi Ayah dan Kakaknya. hanya dua sahabat yang bisa menjadi curahan hati Alie tapi semua itu tak mampu menyembuhkan luka batin Alie. Ketika di kuburan ibunya Alie merasa hampa dan tak kuat hingga ingin bunuh diri, hal ini ketahui lantaran videonya viral di medsos. Sudah pasti Alie menjadi sasaran kemarahan mereka, merasa tak berguna Alie pergi kesebuah tempat, disana dia justru mengalami pelecehan namun tak disangka kakaknya datang menolong karena video yang viral perudungan disekolah semata setingan sudah edit, bukan kesalahan Alie semata. Saat kakaknya ingin menolong adiknya justru ditusuk oleh preman setempat, Kakaknya terbaring lemas kekurangan darah hanya dia yang dapat menolongnya dengan tranfusi darah, dan setelah semuanya terjadi, Alie menghilang begitu saja karena apa yang dibuat juga merasa bikin masalah lagi.
Rumah Untuk Alie Persembahan Falcon pictures di sutradarai oleh Herwin Novianto (Fireworks,Dewi,Tanah Surga katanya) merasakan ada sentuhan yang berbeda dalam setiap karyanya, dikemas dengan drama melakolis penuh shot-shot close up menandakan betapa pahitnya kehidupan Alie terlintas diwajahnya, begitu juga sebaliknya Ayah, Kakak dan Teman menunjukan rasa tidak suka atas kehadiran Alie ini, implentasi dari novel ke layar lebar cukuo baik. Namun ada beberapa hal yang kurang enak ditelusuri alur cerita flashback tidak banyak menunjukan perubahan, kurangnya narasi awal tokoh Alie diperkenalkan, hubungan adik kakak terasa jauh (bisa jadi ini memang disengaja) supaya terlihat kebencian semata. Kakak yang pincang bisa bekerja tapi merasa dirusak masa depannya. Plot hole inilah bagi penonton akan tergangu untuk menikmati hingga akhir, ditangan penulis naskah lah dikemas sedemikian rupa supaya plot hole tidak terlihat secara jelas karena berfokus pada karakter Alie. Aktor muda berbakat seperti Anantya Kirana, Rizky Hanggono, Tika Bravani, Dito Darmawan, Rafly Altama Putra, Andryan Didi, Faris Fadjar Munggaran, Sheila Kusnadi memberikan penampilan yang cukup baik tapi belum banyak pengembangan karakternya, kecuali Anantya Kirana dan Tika Bravani sudah berpengalaman di layar lebar cukup banyak, dengan ending yang bikin penonton penasaran bukan happy ending tapi sad ending tak ada rekonsiliasi atau rasa bersalahnya pihak keluarga. Sebuah pesan mendalam yang dapat berdampak luas bagi masyarakat kita di Indonesia terutama mereka yang mengalami, karena tujuan film Rumah Untuk Alie membuka mata pikiran seseorang untuk berhenti melakukan aniaya dama segala bentuk, hal ini serupa di untarakan oleh Produser Frederica , "Wanita sebagai objek seringkali menjadi sasaran empuk para perundung, sehingga ada kekuatiran pertumbuhan mental jiwa para wanita kedepannya akan berdampak besar bagi negara ini, Kami ingin sudah saat perudungan dihentikan terlebih dalam rumah tangga "
Film Rumah untuk Alie mulai tayang 17 April 2025 di seluruh bioskop Indonesia, ajak sekeluarga datang menonton film ini, rasakan dan temukan sebuah cerita mampu menguras air mata. overall : 7/10




Comments
Post a Comment