Sebuah desa ada rumah tua yang tak berpenghuni sejak puluhan tahun, para penduduk desa tidak ada berani melihat rumah tersebut terlebih ada kejadian bunuh diri anak kecil saat bermain, sejak saat itu dibiarkan begitu saja hingga sekelompok anak Panti pindah di rumah tersebut. Shinta dan Rahma (Jacqueline Immanuela) namanya anak remaja ingin mencoba keluar dari panti untuk menikmati suasana desa , tak sengaja berkenalan Juna (Fatih Unru) pemuda setempat di sebuah pasar malam, perkenalan itu menjadi awal hubungan mereka, selang beberapa jam saja belum sehari ada teror-teror yang terjadi menimpa salah satu penghuni Rahma kerasukan dan meninggal, membuat pimpinan panti Gustav (Edward Akbar) tak merasa ada hal yang aneh wajar saja rumah sudah lama selalu ada penunggunya, hingga ada kematian misterius untuk kedua kalinya, Jihan (Asmara Abigail) dan petugas kebersihan merasakan hal yang aneh terjadi makin parah, salah satu cara diadakan pengajian melibatkan para penduduk desa, namun tak satupun hadir yang akhirnya berujung pada kesurupan Syafa (Ajeng Giona) adik Jihan. Iblis yang berada dalam tubuh Syafa seperti lebih paham ilmu agama dibanding Gustav dan penghuni panti lainnya. Belum lagi munculnya wanita misterius Shinta (Tata Janeta) selalu berada dekat panti.
Satu hal yang menarik dari produksi perdana IM Pictures, horor riligi menawarkan hal yang sederhana tanpa banyak pernak pernik langsung pada pokok masalahnya teror pada penghuni panti. Sebagai pondasi mereka gunakan budaya sunda sudah mengakar lama lekat dengan para pecinta horor di Indonesia, menciptakan pandangan baru menikmati film horor namun tanpa mengurui para penonton. Walaupun masuk riligi tak melulu ajaran agama terlihat terbukti beberapa adegan ketidakberdayaan menghadapi serangan iblis, hal ini mencerminkan setiap manusia biasa berusaha mengusir iblis segala cara dengan kekuatan yang ada. Inilah yang diinginkan Sutradara tak harus menjadi orang yang suci melawan kekuatan jahat siapapun kita melawan kekuatan jahat selama iman kita percaya Tuhan ada dalam hidup kita. Dan disin kita juga diperlihatkan tak semua cara agama tak ada efek samping, tetap saja ada ketakutan yang membahayakan. MUSLIHAT, hal licik dipakai iblis mengusai manusia tak peduli apakah mereka beragama atau tidak, sejatinya cara ini paling ampun melabui manusia.
Sebagai production film baru di kancah perfilmaan Indonesia, Im Pictures gebrakannya cukup oke dengan genre horor yang ada, bisa jadi misi mereka membuat karya otentik lewat kisah-kisah sederhana dalam ruang lingkup yang ada, Apakah film Muslihat buruk hasilnya tentu saja tidak, keberanian penulis naskah dijaga dengan baik hingga akhir cerita. Tanpa disadari penontonlah diminta menebak arahnya kemana, terbukti misteri yang dihasilnya membuat penonton tidak kehilangan rasa ketakutan mendalam, permainan spesial efek sudah mumpuni hanya sedikit dipoles lagi dalam segi special cgi terlebih perpindahan wujud seseorang kesurupan. Berbicara soal karakter melakukan dengan baik setiap para aktor cilik dan dewasa. hanya dialog agak monoton, kaku dan beberapa gerakan kamera (moving camera) para aktor cilik seperti mengikuti arahan sutradara baru mereka bergerak. Mengenai lokasi sudah bagus apalagi permainan cahaya secara natural terlihat di setiap sudut-sudut lokasi perkampungan. Twist yang dibangun pada ending mengisyaratkan babak kedua akan dimulai dengan latar rumah yang mereka tempati akan dijabakan lebih lanjut. Film MUSLIHAT bisa menjadi alternatif film horor setelah libur lebaran dan masih ada waktu untuk menyaksikan di Bioskop mulai 17 April 2025. Sebuah misteri keberadaan rumah panti beserta terornya makin mengila.



Comments
Post a Comment