AFTERMATH
Directed : Patrick Lussier
Production : Voltage
Runtime : 1h 37m
Aftermath, menyoroti ketimpangan sosial politik dari kehidupan para prajurit yang berjuang mati-matian demi negaranya, mereka merasakan perbedaan setelah misi negara berhasil namun tak ada penghormatan bagi mereka, munculah barisan sakit hati, barisan kekecewaan yang mendalam. Aftermath adalah eksplorasi mencekam tentang bagaimana perang dapat mematahkan kehidupan itu dan sejauh mana seorang akan melindungi orang-orang yang dicintainya, bahkan rasa trauma yang mendalam ketika dia tidak yakin dapat menyelamatkan orang lain dan diri sendiri. Dari awal kita sudah disuguhkan adegan aksi, yang pada awalnya mungkin menarik perhatian, Saat rentetan ledakan, baku tembak, dan kejar-kejaran terus berlanjut, keseruannya pun meredup, membuat penonton merasa lelah dan bukannya gembira. Pada saat film mencapai titik tengah, film ini mulai terseret, kehilangan momentum yang awalnya tampak menjanjikan. ritme alur cerita yang kadang tidak seimbang, dan apa yang seharusnya menjadi film thriller aksi yang terjalin erat, akhirnya terasa lambat dan melebar. Meskipun para pemainnya, termasuk Dylan Sprouse, Mason Gooding, Dichen Lachmen dan Megan Stott, memberikan penampilan yang patut dipuji, upaya mereka berakting pada akhirnya dikalahkan oleh plot yang lemah dan kurang diexplorasi mendalam, padahal premis seperti ini begitu menjanjikan setidaknya membuka mata pemerintah sadar betul fungsi para penegak hukum, prajurit yang setia kepada panggilannya.
Meskipun ada banyak adegan laga, namun ada kekurangan ketegangan yang mengejutkan para aktor sudah membangun chemistry antara pemain satu dengan yang lainnya terutama latar belakang mereka dengan cara persepsi yang berbeda dimana Romeo dengan timnya merasakan sakit hati dan Eric sang pahlawan merasa gagal tapi berusaha tidak mau kehilangan orang yang dicintainya, jalinan kilas balik Eric tentang kengerian masa perang dan mimpi buruk terjadi di jembatan sebagai momentum realita dan masa lalu yang menghantuinya mengaburkan batas itu menambahkan kedalaman psikologis pada aksi. Terlepas dari perjuangannya, Eric mendapati dirinya bangkit, menggunakan pengalamannya berperang untuk mengakali dan mengalahkan kaum revolusioner. Jadi fokus utama pada si aktor bukan lagi para teroris di jembatan Boston, mengalahkan PSTD yang berkepanjangan sebuah konflik batin bersama adiknya. Jika kalian ingat film Daylight (1996) bagaimana sebuah jembatan menjadi hal yang mengerikan disaat teroris menghancurkan, setiap momentum akan bermakna, apakah Aftermath tidak bermakna tentu saja tidak, penonton masih dapat menikmati sajian selama 1jam 37menit dengan baik pada akhirnya, meski para pemerannya bersinar secara individual, film ini secara keseluruhan masih layak di tonton film aksi tak kalah menariknya.
Aftermath, memberikan benang merah buat para orang-orang yang berjasa pada negara akhirnya harus menerima kekalahan politik, kembali pada kehidupan seperti masyarakat biasa, menerima trauma yang berkepanjangan bahkan hal-hal yang tidak menyenangkan bakalan terjadi, seperti kasus film American Sniper, prajurit terbaik mati mengenaskan oleh tembakan dari orang yang ditolongnya, semoga penyegaran ini bisa terjadi oleh pemerintah dan menjamin kehidupan mereka lebih baik. Aftermath secara eklusive tayang hanya di Cinema21 mulai tanggal 8 November 2024. Overall :7/10




Comments
Post a Comment