Skip to main content

REVIEW FLM : FALL 2 - DEADPOINT, “ Tetap Menegangkan, Ceritanya Mulai Kehilangan Pijakan.”


Film Fall 2: Deadpoint hadir dengan membawa kembali formula survival dan ketakutan terhadap ketinggian dari film pertamanya. Secara konsep, film ini mencoba memberikan sesuatu yang berbeda lewat lokasi baru, karakter baru, serta konflik yang lebih luas.Dari sisi visual, film ini tetap mampu memanfaatkan rasa takut terhadap ketinggian. Beberapa adegan di lokasi ekstrem, permukaan yang licin, kondisi cuaca buruk, dan situasi berbahaya masih memberikan sensasi survival yang cukup menegangkan. Hanya saja, setelah melihat trailer, ekspektasi terhadap adegan-adegan ekstrem tersebut terasa cukup tinggi. Di filmnya sendiri, beberapa momen yang terlihat sangat menegangkan di trailer ternyata tidak selalu terasa sekuat yang dibayangkan. Alur ceritanya berusaha membawa Jax menghadapi trauma dan kehilangan setelah kematian kakaknya, Shiloh. Ia kemudian mengikuti Luce dalam sebuah perjalanan yang awalnya terlihat seperti bentuk penghormatan, tetapi akhirnya berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup. Masalahnya, semakin cerita berkembang, semakin terasa bahwa film mencoba memasukkan terlalu banyak elemen ke dalam satu narasi. Salah satu tambahan yang cukup mengganggu adalah unsur narkoba. Elemen tersebut sebenarnya bisa menjadi bagian dari konflik, tetapi dalam film ini terasa membuat alurnya semakin melebar. Cerita yang seharusnya lebih fokus pada survival, trauma, dan hubungan antarkarakter justru harus memberikan ruang bagi konflik tambahan. Akibatnya, beberapa bagian terasa dipaksakan agar cerita memiliki kejutan yang lebih besar.  Namun setelah menonton secara utuh, perluasan tersebut justru membuat cerita tidak sekuat film pertamanya. Ketegangannya masih ada, tetapi nuansa dan kekuatan emosional yang menjadi daya tarik film sebelumnya terasa berkurang. Sementara di pada film keduanya, hubungan Jax dan Luce tidak memiliki fondasi emosional yang sama kuat. Hubungan mereka berkembang lebih cepat dan banyak dibangun melalui rahasia serta situasi ekstrem. Akibatnya, ketika konflik mulai muncul, dampak emosionalnya tidak selalu terasa sebesar konflik Becky dan Shiloh. Film lebih banyak mengandalkan trauma sebagai dasar karakter, tetapi trauma saja ternyata belum cukup untuk membuat tokoh terasa kuat dan berkesan. Karakter wanita dalam film ini juga terasa berbeda dibandingkan tokoh di film pertama. Luce memang dibuat memiliki rahasia dan sisi lain yang baru terungkap kemudian, tetapi cara karakternya dibangun justru membuatnya pada beberapa bagian terasa dipaksakan menjadi sosok yang menyebalkan. Bukannya membuat penonton semakin memahami atau peduli, beberapa tindakannya malah membuat hubungan dengan Jax terasa kurang natural.
Hal tersebut semakin terasa jika dibandingkan dengan Fall pertama. Becky dan Shiloh memiliki hubungan pertemanan yang sudah terbentuk sejak awal. Mereka bukan sekadar dua karakter yang ditempatkan bersama di lokasi berbahaya, tetapi memiliki sejarah, kepercayaan, konflik, dan luka masing-masing. Bahkan ketika film memberikan plot twist, hubungan mereka tetap menjadi bagian penting dari kekuatan cerita. Karena itu, konflik dalamnya pertama terasa lebih personal.  Dari segi cerita,Justru babak kedua terasa lebih melebar dibandingkan film sebelumnya. Film ingin menjadi survival thriller, tetapi sekaligus memasukkan persoalan identitas, rahasia, narkoba, trauma keluarga, dan berbagai kejutan. Beberapa elemen tersebut sebenarnya menarik, tetapi tidak semuanya terasa menyatu. Ada bagian yang seolah sengaja dibuat untuk mengarahkan penonton kepada twist, sementara perkembangan karakter justru kurang mendapatkan perhatian.  Ada pula kejanggalan pada potongan scene di bagian akhir yang membuat transisi ceritanya terasa kurang mulus. Bagi penonton yang memperhatikan detail, bagian tersebut bisa menimbulkan pertanyaan karena hubungan antara satu adegan dengan adegan berikutnya terasa tidak sepenuhnya rapi. Ini menjadi salah satu contoh bahwa film sebenarnya memiliki ide cerita yang cukup banyak, tetapi eksekusinya belum semuanya terasa solid.
Meski begitu, bukan berarti Fall 2: Deadpoint  tidak memiliki daya tarik. Film ini masih mampu memberikan sensasi survival dan ketakutan terhadap ketinggian yang menjadi identitas seri. Setting yang berbeda juga memberikan variasi sehingga film tidak sepenuhnya terasa sebagai pengulangan film pertama. Hanya saja, ketika dibandingkan langsung dengan film sebelumnya, kekuatan karakter dan hubungan emosionalnya terasa jauh lebih lemah. Film Fall 2: Deadpoint  adalah sekuel yang masih bisa dinikmati, tetapi tidak berhasil memberikan nuansa yang sama kuatnya dengan yang pertama. dengan memiliki kombinasi yang sederhana tetapi efektif: dua sahabat, sebuah situasi ekstrem, trauma, konflik personal, dan sebuah twist yang berhasil mengubah cara penonton melihat keseluruhan cerita. Part 2 mencoba melakukan lebih banyak hal, tetapi justru kehilangan sebagian kesederhanaan tersebut.  Namun, film ini tampaknya belum benar-benar selesai. Dari arah cerita yang diberikan pada bagian akhir, sangat mungkin seri ini akan berlanjut ke part 3, dengan kemungkinan membawa tema balas dendam sebagai salah satu konflik utamanya. Jika benar demikian, menarik untuk melihat apakah film ketiga nantinya mampu mengembalikan kekuatan karakter dan ketegangan yang menjadi daya tarik Film Fall, atau justru semakin memperlebar cerita. Untuk saat ini, film Fall 2: Deadpoint  lebih terasa sebagai sekuel yang mencoba memperbesar skala, tetapi belum mampu menyamai kekuatan emosional pendahulunya. Penasaran saksikan mulai tanggal 16 September 2026, overall : 6,8/10.


Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM HOUSEMAID 2025, Tampil Dalam Cerita Penuh Kejutan

The Housemaid (2025)  Genre: Thriller psikologis / drama Sutradara: Paul Feig Diadaptasi dari novel: The Housemaid karya Freida McFadden Pemeran utama: Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar Ringkasan Cerita Millie, seorang perempuan yang baru keluar dari penjara, mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah milik keluarga Winchester yang kaya  raya. Awalnya pekerjaan ini tampak seperti kesempatan kedua untuk menata hidup. Namun perlahan, atmosfer rumah tersebut berubah mencekam. Rahasia, manipulasi, dan relasi kuasa yang timpang mulai terkuak, menghancurkan ilusi kehidupan kelas atas yang tampak sempurna. Menariknya dari film ini , saya pikir remake film korea karena tidak membaca detil kalau film ini  berdasarkan novel 2022 dengan nama yang sama oleh Freida McFadden. Film tersebut dibintangi oleh Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar. termasuk dalam katagori 17+ ada adegan dewasa, harap sangat bijak untuk menontony...

REVIEW FILM : LOVE BARISTA, Cinta Lewat Sruputan Kopi Vietnam

  Love Barista mencoba menghadirkan komedi romantis lintas budaya dengan mempertemukan Korea Selatan dan Vietnam. Premisnya cukup menarik, seorang aktor Korea yang sedang terpuruk harus bertahan hidup di Vietnam hingga bertemu seorang barista berbakat yang perlahan mengubah hidupnya. Yang langsung terasa sejak awal adalah suasana Vietnam yang ditampilkan dengan hangat. Jalanan, kafe, hingga budaya kopinya menjadi nilai tambah yang membuat film terasa nyaman dinikmati, bahkan ketika ceritanya berjalan santai. Lee Kwang-soo kembali mengandalkan kemampuan komedinya yang sudah dikenal banyak orang. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tingkah kikuknya masih mampu mengundang tawa tanpa harus berlebihan. Bagi penggemarnya, inilah alasan utama untuk datang ke bioskop. Hoang Ha juga tampil cukup natural sebagai Thao . Karakternya sederhana, hangat, dan mudah disukai. Interaksi keduanya yang menggunakan bahasa Korea, Vietnam, dan sedikit bahasa Inggris justru menjadi salah satu bagian yang me...