Love Barista mencoba menghadirkan komedi romantis lintas budaya dengan mempertemukan Korea Selatan dan Vietnam. Premisnya cukup menarik, seorang aktor Korea yang sedang terpuruk harus bertahan hidup di Vietnam hingga bertemu seorang barista berbakat yang perlahan mengubah hidupnya. Yang langsung terasa sejak awal adalah suasana Vietnam yang ditampilkan dengan hangat. Jalanan, kafe, hingga budaya kopinya menjadi nilai tambah yang membuat film terasa nyaman dinikmati, bahkan ketika ceritanya berjalan santai. Lee Kwang-soo kembali mengandalkan kemampuan komedinya yang sudah dikenal banyak orang. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tingkah kikuknya masih mampu mengundang tawa tanpa harus berlebihan. Bagi penggemarnya, inilah alasan utama untuk datang ke bioskop. Hoang Ha juga tampil cukup natural sebagai Thao. Karakternya sederhana, hangat, dan mudah disukai. Interaksi keduanya yang menggunakan bahasa Korea, Vietnam, dan sedikit bahasa Inggris justru menjadi salah satu bagian yang membuat film terasa segar. Sayangnya, kekuatan itu belum sepenuhnya didukung oleh skenario. Konflik yang muncul terasa aman dan mudah ditebak, sementara perkembangan karakter berjalan cukup datar sehingga hubungan antar tokoh tidak berkembang sedalam yang diharapkan. Chemistry emosional antara dua pemeran utama sebenarnya cukup terasa lewat dialog dan momen-momen kecil yang mereka bagikan bersama. Penonton bisa memahami mengapa keduanya mulai saling peduli. Namun secara visual, chemistry romantisnya tidak selalu berhasil. Perbedaan usia antara Lee Kwang-soo dan Hoang Ha cukup jelas tertangkap kamera. Di beberapa adegan, kesan sebagai pasangan romantis menjadi kurang kuat dibanding hubungan yang lebih akrab seperti kakak-adik, bahkan bagi sebagian penonton mungkin terasa seperti ayah dan anak.
Apakah hal itu akan mengganggu? Jawabannya kembali kepada masing-masing penonton. Ada yang mampu mengabaikannya karena fokus pada cerita, tetapi ada juga yang sulit benar-benar larut dalam romansa akibat kesan visual tersebut. Dari sisi penyutradaraan, film ini memilih pendekatan yang sederhana. Tidak ada adegan yang terlalu spektakuler, tetapi alur tetap mengalir dengan nyaman dan mudah diikuti hingga akhir. Sinematografinya cukup enak dipandang. Banyak pengambilan gambar yang berhasil memperlihatkan keindahan Ho Chi Minh City dan suasana kedai kopi dengan hangat. Meski tidak istimewa, visualnya mendukung nuansa film secara keseluruhan. Apakah film ini mampu menarik banyak penonton? Kemungkinan besar daya tarik utamanya tetap berasal dari nama Lee Kwang-soo. Penggemar setianya hampir pasti akan menikmati penampilannya, tetapi bagi penonton umum, kekuatan cerita mungkin belum cukup untuk meninggalkan kesan yang mendalam atau menciptakan promosi dari mulut ke mulut yang sangat kuat. Secara keseluruhan, Love Barista adalah komedi romantis yang ringan, hangat, dan mudah dinikmati untuk mengisi waktu luang. Walaupun skenarionya masih terasa biasa, perkembangan karakter kurang kuat, dan chemistry visual pasangan utamanya bisa menjadi perdebatan, film ini tetap memiliki pesona lewat humor khas Lee Kwang-soo, latar Vietnam yang indah, serta pesan sederhana tentang pertemuan dua orang dari budaya yang berbeda. FILM LOVE BARISTA Mulai tayang 10 Juli 2026 di bioskop kesayangan anda.
Nilai: 7/10.




Comments
Post a Comment