Skip to main content

REVIEW FILM : The Death of Robin Hood, Sisi Kelam Sang Penolong Rakyat Jelata



Kalau mengharapkan film The Death of Robin Hood penuh aksi seperti kisah Robin Hood yang selama ini dikenal, kemungkinan besar akan merasa kecewa. Film ini justru mengambil arah yang sangat berbeda. Ceritanya lebih banyak membahas penyesalan, dosa, dan perjalanan hidup seorang Robin Hood yang sudah tua. Robin Hood versi Hugh Jackman digambarkan bukan lagi sebagai pahlawan yang gagah berani. Ia menjadi sosok yang lelah, penuh luka, dan terus dihantui masa lalunya. Hampir sepanjang film, penonton diajak melihat pergulatan batinnya daripada aksi memanah atau melawan musuh. Hal yang cukup mengejutkan adalah masa lalu Robin ternyata jauh lebih kelam daripada legenda yang selama ini dikenal. Film ini menunjukkan bahwa ia pernah membunuh banyak orang, bahkan rakyat jelata yang tidak bersalah. Hal inilah yang menjadi sumber rasa bersalah yang terus menghantuinya hingga akhir hidup. Karakter Little John (Bill Skarsgård) juga ikut terseret dalam sisi gelap tersebut. Hubungan mereka bukan lagi sekadar sahabat yang melawan ketidakadilan, tetapi dua orang yang sama-sama membawa beban masa lalu. Nuansa ini membuat cerita terasa semakin suram.
Sepanjang film, Robin lebih banyak berbicara dengan dirinya sendiri, mengenang kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Penyesalan itu terus diulang dalam berbagai adegan sehingga lama-kelamaan terasa cukup monoton. Konfliknya memang ada, tetapi perkembangannya terasa lambat. Ketika Robin terluka parah setelah sebuah pertempuran, muncul seorang wanita misterius yang merawatnya Suster biarawati St Bernadette. Kehadiran wanita ini sebenarnya memberi harapan akan adanya perubahan cerita, tetapi porsi yang diberikan lebih banyak menjadi teman perjalanan batin Robin daripada menghadirkan konflik baru. Film ini memang lebih fokus pada pencarian penebusan dosa. Sayangnya, penyampaiannya terasa sangat pelan. Bagi penonton yang menyukai drama psikologis mungkin akan menikmatinya, tetapi bagi yang datang untuk melihat petualangan Robin Hood, ritmenya bisa terasa membosankan. Suasana film juga dibuat sangat muram. Hampir tidak ada momen ringan atau humor yang bisa mengurangi ketegangan. Warna gambar, musik, dan dialog semuanya mendukung kesan bahwa ini adalah kisah menjelang akhir kehidupan seorang pria yang dipenuhi penyesalan. 
Akting Hugh Jackman tetap menjadi nilai tambah. Ia berhasil menunjukkan sosok pria tua yang lelah secara fisik maupun batin. Emosi yang ia tampilkan terasa kuat, meski cerita yang dibawanya tidak selalu menarik di setiap bagian. Yang menjadi kelemahan terbesar menurut saya adalah konflik utamanya terasa berputar di tempat. Penonton terus melihat Robin dihantui dosa yang sama tanpa banyak kejutan baru. Akibatnya, durasi film terasa lebih panjang daripada yang sebenarnya. Film ini sebenarnya punya ide yang menarik karena berani membalik legenda Robin Hood menjadi kisah tentang manusia yang penuh kesalahan. Namun, eksekusinya terlalu fokus pada rasa bersalah sehingga sisi petualangan dan aksi yang menjadi ciri khas Robin Hood hampir tidak terasa.


Film The Death of Robin Hood menawarkan pendekatan yang sangat berbeda dari legenda yang selama ini dikenal. Michael Sarnoski tidak mencoba menghadirkan kisah kepahlawanan, melainkan mengajak penonton mempertanyakan bagaimana sebuah legenda bisa terbentuk dan apakah seseorang benar-benar layak disebut pahlawan. Dengan nuansa yang kelam, realistis, dan penuh refleksi, film ini lebih menyoroti sisi manusia yang penuh kesalahan daripada sosok pahlawan tanpa cela. Pendekatan seperti ini membuat The Death of Robin Hood terasa lebih seperti drama psikologis daripada film petualangan. Penampilan Hugh Jackman menjadi kekuatan utama dalam menggambarkan karakter yang rapuh dan kompleks, sementara penyutradaraan Sarnoski berhasil membangun atmosfer suram yang konsisten. Meski ritmenya lambat dan mungkin tidak sesuai dengan harapan penonton yang menginginkan aksi, film ini tetap menarik sebagai interpretasi baru yang berani terhadap salah satu legenda paling terkenal sepanjang masa.
Secara keseluruhan, The Death of Robin Hood bukan film yang jelek, tetapi juga bukan tontonan yang mudah dinikmati semua orang. Jika menyukai drama yang lambat dan penuh renungan, film ini mungkin cocok. Namun jika berharap kisah Robin Hood yang penuh aksi, strategi, dan semangat melawan kejahatan, kemungkinan besar akan merasa film ini cukup membosankan karena sebagian besar cerita hanya berputar pada penyesalan Robin hingga akhir hayatnya. FIlmnya mulai tayang tanggal 3 Juli 2026 hanya di Bioskop kesayangan anda, nikmati drama penyesalan dari sosok pahlawan. Skor : 7/10.

 

Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

PRESS RILIS : GALAXY QUEST OF INDONESIA, Amazing Race ala Vidio.Com Perpaduan teknologi dan budaya

  Apa jadinya jika sembilan figur publik dengan kepribadian dan latar belakang yang beragam, diajak menelusuri kota-kota Indonesia demi mengungkap cerita-cerita yang nyaris terlupakan? Itulah inti dari Vidio Eksklusif Samsung QUEST: Unleash Your Galaxy, Explore The Culture , sebuah reality series perjalanan yang akan tayang secara eksklusif di Vidio mulai 13 Juni 2025. Series ini bukan sekadar acara jalan-jalan biasa. Para peserta yang terdiri dari aktor, aktris, content creator, hingga figur inspiratif akan dihadapkan pada serangkaian misi lintas kota. Dari menyelami jejak sejarah kota Semarang, menghidupkan kembali denyut kreatif kota Bandung, hingga mencicipi rasa dan filosofi budaya di Yogyakarta. Di balik kamera, setiap langkah mereka didorong oleh satu tujuan: menyatukan potongan-potongan cerita yang tersembunyi di balik kuliner, arsitektur, dan seni lokal, lalu membawanya ke permukaan dalam bentuk karya. Dipandu oleh Darius Sinathrya, yang hadir dengan pembawaan hangat...

REVIEW : FILM KOREA HI FIVE, Kisah Superhero Ala Korea

DIRECTOR: Kang Hyoung-chul ACTOR : Lee Jae-In sebagai Wan-Seo (Atlit Taekwondo) Ahn Jae-Hong sebagai Ji-Seong (Penulis Skenario) Yoo Ah Hin  sebagai Ki Dong ( Manipulasi elektronik) Ra Mi-Ran sebagai Sun-Nyeo (Manager Minuman Yogurt) Kim Hee-Won sebagai Yak-Su (Leader) Oh Jung-Se sebagai ayah Wan-Seo (Mantan Atlit Taekwondo) Jin Young (GOT7) sebagai Young-Chun (Leader Sekte) Durasi : 120 Menit Produksi : Next Entertaiment  Dengan kombinasi para aktor muda dan senior film ini menjanjikan akan masuk box office cukup lumayan pada posisi ke 10, agak lambat bisa jadi potensi film masi dipegang pihak hollywood atau film bertema politik, bagi saya HiFive jika di crossover Moving atau film sejenis superhero korea akan merambah pada kecintaan superhero local, trailer sudah terpotong tayang di medsos berarti banyak berharap banyak film ini bisa ditonton tentu saja di bioskop bukan platform ilegal. Kisah 5 orang tak dikenal mencoba mencari kekuatan masing-masing, nah siapa mengapa tak di...