Skip to main content

REVIEW : FILM ETERNITY 2025 : Menunggu Cinta di Antara Hidup dan Keabadian

Film Eternity karya David Freye (Dating Amber, The Cured) menghadirkan gagasan yang sederhana namun sarat makna: bagaimana jika setelah kematian, manusia masih diberi ruang untuk “bertemu kembali”, menimbang, dan memilih sebelum melangkah menuju keabadian? Melalui sudut pandang pasangan yang dipertemukan kembali di alam antara hidup dan akhir, film ini tidak menitikberatkan pada horor atau visual spektakuler, melainkan pada pergulatan batin, memori, dan beban emosi yang belum selesai. Secara logis, Eternity berfungsi sebagai metafora ruang transisi bukan surga atau neraka melainkan ruang evaluasi eksistensi. Pertemuan dua insan setelah kematian digambarkan secara tenang, hampir datar, seolah kematian bukan akhir yang dramatis melainkan kelanjutan kesadaran. Di sinilah logika film bekerja: mereka tidak langsung “bahagia”, justru dipaksa mengingat kembali keputusan-keputusan hidup yang membentuk hubungan mereka. Dialog menjadi tulang punggung narasi, memperlihatkan bagaimana cinta, pengkhianatan, penyesalan, dan ketulusan tidak otomatis terhapus oleh kematian. Gambar yang dihasilkan juga tidak begitu imajinatif justru seperti kita berada didunia bukan alam baka, kematian yanga diperlihatkan adalah perjalanan manusia mondar mandir mencari tujuan baru, bukan akhir dari segalanya, tak ada gambaran yang menakutkan, kesunyian dah film ini hadir bukan juga dari sudut agama manapun, hanya bagaimana sebuah cinta ditemukan dan dilalui bersama secara rasional, ini menguatkan gagasan bahwa kematian tidak menyelesaikan konflik batin ia hanya memindahkannya ke ruang refleksi yang lebih hening. Secara filosofis, Eternity mengajukan pertanyaan penting: apakah cinta bersifat final seperti kematian, atau justru terus diuji bahkan setelah nyawa berakhir? Alam baka dalam film ini bukan hadiah, melainkan ruang pertanggungjawaban emosional. Pasangan dalam cerita tidak disatukan kembali sebagai “hadiah romantis”, melainkan ditempatkan dalam situasi evaluatif: apakah mereka benar-benar saling memilih, atau hanya terbiasa satu sama lain saat hidup? Di sinilah film ini bersikap logis cinta tidak dianggap sakral tanpa kritik, melainkan sebagai hasil keputusan sadar. Dari sisi penyutradaraan, David Freye tampil minimalis. Ia menolak eksploitasi visual berlebihan dan memilih ruang-ruang sunyi, pencahayaan lembut, serta tempo lambat untuk menekankan kesadaran pascakematian. Pendekatan ini memperkuat logika pengalaman “antara”: tidak sepenuhnya hidup, belum sepenuhnya abadi. Akting para pemeran juga lebih mengandalkan ekspresi mikro dan jeda dialog, membuat setiap kata terasa seperti pengakuan, bukan sekadar percakapan.

 Keindahan film ini terletak pada kontras antara dua jenis cinta tersebut. Cinta pertama Luke (Callum Turner) sosok pria macho, prajurit tanggung jawab terhadap negara, rela berkorban demi cinta kepada negara dan istrinya, sisi lain tak ada keturunan yang meneruskan generasinya, dia hadir sebagai idealisasi tentang siapa diri kita ketika masih utuh dan naif. kehadiran Cinta terakhir Larry (Milles Teller) hadir sebagai realitas tentang siapa diri kita setelah ditempa kegagalan dan kehilangan, pertengkaran, problema perselingkuhan, bumbu rumah tangga menuju kedewasan bahkan kehadiran anak cucu menjadi kekuatan hingga lanjut usia, Hal ini film Eternity tidak menghakimi mana yang lebih benar. Ia justru menunjukkan bahwa manusia sering kali mencintai dengan cara yang berbeda di setiap fase hidupnya, dan setiap cinta meninggalkan bekas yang sama kuatnya. Pada akhirnya, film ini lebih berhasil sebagai gagasan ketimbang sebagai drama yang sepenuhnya matang. Ia menawarkan pertanyaan yang mengusik, apakah cinta yang paling murni adalah yang pertama, atau yang paling setia adalah yang terakhir?, namun tidak seluruhnya memberi tekanan emosional yang setara dengan bobot pertanyaan itu. Keputusan akhir Joan (Elisabeth Olsen), harus memilih cinta pertama atau terakhir alih-alih terasa sebagai ledakan tragedi romantis, justru hadir dalam nada yang terlalu tenang untuk sebuah pilihan yang menentukan keabadian.

Meski demikian, Film Eternity tetap layak diperhitungkan sebagai romansa reflektif yang berani menempatkan cinta dalam ranah eksistensial, bukan sekadar emosional. Ia mungkin tidak sepenuhnya menghancurkan hati, tetapi cukup untuk meninggalkan kegelisahan yang bertahan lama setelah layar gelap sebuah cerita cinta yang datang terlalu cepat dan cinta yang bertahan lama, namun ada keputusan yang akan dipilih setelah kematian pun tak mampu sederhanakan. Persembahan A24 yang biasa menghadirkan thriler atau horor kali ini film yang mencerminkan kekuatan cinta tetap diuji setelah kematian, Mulai tayang tanggal 3 Desember 2025, ajak pasangan menonton bersama kemudian jadikan refleksi bersama dalam pernikahan. Overall : 8.5/10 


 

 

Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM HOUSEMAID 2025, Tampil Dalam Cerita Penuh Kejutan

The Housemaid (2025)  Genre: Thriller psikologis / drama Sutradara: Paul Feig Diadaptasi dari novel: The Housemaid karya Freida McFadden Pemeran utama: Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar Ringkasan Cerita Millie, seorang perempuan yang baru keluar dari penjara, mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah milik keluarga Winchester yang kaya  raya. Awalnya pekerjaan ini tampak seperti kesempatan kedua untuk menata hidup. Namun perlahan, atmosfer rumah tersebut berubah mencekam. Rahasia, manipulasi, dan relasi kuasa yang timpang mulai terkuak, menghancurkan ilusi kehidupan kelas atas yang tampak sempurna. Menariknya dari film ini , saya pikir remake film korea karena tidak membaca detil kalau film ini  berdasarkan novel 2022 dengan nama yang sama oleh Freida McFadden. Film tersebut dibintangi oleh Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar. termasuk dalam katagori 17+ ada adegan dewasa, harap sangat bijak untuk menontony...

REVIEW FILM ANIME : The Dangers in My Heart: The Movie

The Dangers in My Heart: The Movie merupakan  film yang menawarkan kisah remaja dengan cara yang jujur dan manusiawi. Ceritanya berpusat pada Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada , dua siswa SMP yang sangat berbeda, namun perlahan saling mendekat melalui momen-momen canggung yang terasa nyata. Kyotaro adalah anak introvert yang cenderung menyendiri. Ia punya minat yang tidak biasa untuk anak seusianya: membaca buku tentang anatomi dan hal-hal gelap, serta mendengarkan musik metal. Di balik itu, ia sebenarnya penuh keraguan, kesepian, dan rasa tidak percaya diri. Pikiran gelapnya bukan tanda kebencian, melainkan cara seorang remaja menghadapi dunia yang terasa menekan. Sebaliknya, Anna Yamada adalah gadis populer di sekolah. Ia ceria, energik, dan secara penampilan terlihat lebih matang dibanding teman-teman sekelasnya. Namun di balik citra itu, Anna punya sisi polos, ceroboh, dan rakus makanan yang membuatnya sangat manusiawi. Ia bukan sosok sempurna, melainkan remaja yang sedang bel...