Skip to main content

Review Film Backrooms (2026), Ketakutan Terbesar Dalam Diri Manusia

Backrooms (2026) menghadirkan konsep horor yang berbeda dari kebanyakan film seram saat ini. Alih-alih mengandalkan jumpscare berlebihan, film ini lebih fokus membangun rasa tidak nyaman melalui lorong-lorong kosong yang tampak tidak berujung. Cerita mengikuti Clark, seorang pria yang menemukan jalan menuju dimensi misterius bernama Backrooms. Tempat ini terlihat sederhana, hanya ruangan dan koridor berwarna kuning, tetapi menyimpan banyak misteri yang sulit dijelaskan. Seiring berjalannya waktu, rasa penasaran Clark berubah menjadi obsesi. Ia semakin dalam menjelajahi Backrooms dan mulai kehilangan hubungannya dengan dunia nyata. Ketika Clark menghilang, terapisnya berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pencarian tersebut menjadi awal petualangan yang jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan. Salah satu kekuatan utama film ini adalah atmosfernya. Kesunyian, ruang kosong, dan pencahayaan yang monoton berhasil menciptakan ketegangan yang terus terasa sepanjang film. Backrooms juga berhasil memanfaatkan rasa takut yang sangat dekat dengan manusia, yaitu ketakutan tersesat dan sendirian. Penonton dibuat merasakan kebingungan yang sama seperti para karakternya. Dari sisi visual, film ini tampil cukup unik. Desain lokasi yang berulang justru menjadi daya tarik karena membuat penonton merasa terjebak di tempat yang sama tanpa jalan keluar. Meski memiliki unsur makhluk misterius, film ini tidak menjadikan monster sebagai fokus utama. Teror terbesar justru datang dari kondisi psikologis para karakter yang perlahan berubah.
Tempo cerita memang tidak selalu cepat. Beberapa bagian berjalan lambat untuk membangun suasana, sehingga mungkin tidak cocok bagi penonton yang menginginkan horor penuh aksi. Namun bagi penggemar horor psikologis dan misteri, pendekatan tersebut menjadi nilai tambah. Film ini memberi ruang bagi penonton untuk menafsirkan sendiri berbagai kejadian yang muncul. Tidak selalu karena ingin menjatuhkan rumah produksi horor lain. Justru pendekatan yang dilakukan A24 lebih berkaitan dengan identitas mereka sebagai studio yang sering memberi kebebasan besar kepada sutradara untuk menghadirkan visi yang unik. A24 dikenal lewat film-film yang tidak hanya ingin membuat penonton takut, tetapi juga mengajak mereka memikirkan makna di balik cerita. Dalam banyak karya horornya, rasa takut sering digunakan sebagai alat untuk membahas kesedihan, trauma, kesepian, kehilangan, tekanan sosial, hingga krisis identitas. Karena itu, setelah film selesai, penonton masih memikirkan apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan. Pendekatan ini terlihat pada berbagai film horor A24 seperti Hereditary, Midsommar, The Witch, hingga Talk to Me. Film-film tersebut sering meninggalkan ruang interpretasi sehingga penonton bisa memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai akhir cerita maupun makna simbol yang ditampilkan. Dari sisi bisnis, strategi ini justru membuat A24 memiliki ciri khas yang membedakannya dari studio lain. Ketika banyak film horor mengandalkan jumpscare atau formula yang sudah dikenal, A24 mencoba menawarkan pengalaman yang lebih atmosferik dan psikologis. Tujuannya bukan mengalahkan kompetitor secara langsung, melainkan mengisi segmen penonton yang mencari sesuatu yang berbeda.
Jika dikaitkan dengan Backrooms, pendekatan seperti ini cukup masuk akal. Konsep Backrooms sendiri memang berasal dari ketakutan eksistensial tentang tersesat, kesendirian, dan hilangnya identitas. Tema seperti itu akan terasa lebih kuat jika disajikan secara ambigu dan mengundang tafsir, dibandingkan menjelaskan semuanya secara gamblang. Menjelang akhir, Backrooms semakin bermain dengan batas antara kenyataan dan ilusi. Banyak pertanyaan yang sengaja dibiarkan terbuka sehingga memancing diskusi setelah film selesai. Secara keseluruhan, Backrooms adalah film horor yang menawarkan pengalaman berbeda. Bukan hanya tentang bertahan hidup dari ancaman misterius, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa kehilangan arah, identitas, dan kewarasannya ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat dipahami.Menunjukkan bagaimana horor modern mulai bergeser dari sekadar menakut-nakuti menjadi sarana untuk mengajak penonton merenungkan makna yang lebih dalam. Pendekatan yang sering diasosiasikan dengan film-film A24 ini mungkin tidak memuaskan semua orang, Bckrooms mulai hadir 10 juni 2026 di bioskop kesayangan anda Cinepolis, Cinema21, Flix cinema, CGVCinema. FIlm ini berhasil menciptakan pengalaman yang terus dibicarakan bahkan setelah lampu bioskop menyala kembali. 


Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM HOUSEMAID 2025, Tampil Dalam Cerita Penuh Kejutan

The Housemaid (2025)  Genre: Thriller psikologis / drama Sutradara: Paul Feig Diadaptasi dari novel: The Housemaid karya Freida McFadden Pemeran utama: Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar Ringkasan Cerita Millie, seorang perempuan yang baru keluar dari penjara, mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah milik keluarga Winchester yang kaya  raya. Awalnya pekerjaan ini tampak seperti kesempatan kedua untuk menata hidup. Namun perlahan, atmosfer rumah tersebut berubah mencekam. Rahasia, manipulasi, dan relasi kuasa yang timpang mulai terkuak, menghancurkan ilusi kehidupan kelas atas yang tampak sempurna. Menariknya dari film ini , saya pikir remake film korea karena tidak membaca detil kalau film ini  berdasarkan novel 2022 dengan nama yang sama oleh Freida McFadden. Film tersebut dibintangi oleh Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar. termasuk dalam katagori 17+ ada adegan dewasa, harap sangat bijak untuk menontony...

REVIEW FILM ANIME : The Dangers in My Heart: The Movie

The Dangers in My Heart: The Movie merupakan  film yang menawarkan kisah remaja dengan cara yang jujur dan manusiawi. Ceritanya berpusat pada Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada , dua siswa SMP yang sangat berbeda, namun perlahan saling mendekat melalui momen-momen canggung yang terasa nyata. Kyotaro adalah anak introvert yang cenderung menyendiri. Ia punya minat yang tidak biasa untuk anak seusianya: membaca buku tentang anatomi dan hal-hal gelap, serta mendengarkan musik metal. Di balik itu, ia sebenarnya penuh keraguan, kesepian, dan rasa tidak percaya diri. Pikiran gelapnya bukan tanda kebencian, melainkan cara seorang remaja menghadapi dunia yang terasa menekan. Sebaliknya, Anna Yamada adalah gadis populer di sekolah. Ia ceria, energik, dan secara penampilan terlihat lebih matang dibanding teman-teman sekelasnya. Namun di balik citra itu, Anna punya sisi polos, ceroboh, dan rakus makanan yang membuatnya sangat manusiawi. Ia bukan sosok sempurna, melainkan remaja yang sedang bel...