Skip to main content

REVIEW : A WRITER'S ODYSSEY 2 , Bagian kedua makin kompleks

 

Film fantasy di Tiongkok  sudah lama menjamur pengunaan CGI SFX tetap menjadi bagian sebuah harta karun yang luas dan sebagian besar belum dieksplorasi dan harus dibarengi oleh sisi aktor dalam beradu, seringkali film fantasi china hanya mengandalkan efek tapi minim karakter, hal ini berpengaruh pada kenikmatan penonton melihat seperti apa yang dia ketahui menjadi sebuah kenyaatan dalam filmnya,  Hanya film tertentu berhasil masuk jajaran Box Office : Nezha 1-2, Wandering Earth atau Journey to the West telah memberikan kontribusi yang besar bagi perfilmaan mereka , tak heran hampir 10 hingga 20 perusahaan film bersatu sebagai investor dalam perkembangan film fantasi China . Salah satu daya tarik utama seri “A Writer’s Odyssey” bagi saya adalah eksplorasi bentuk dan batas baru dalam fantasi Tiongkok. Tak hanya anggaran besar untuk sebuah film komersil tapi keajaiban yang tertuang dalam imajinasi pada sebuah grafis komputer, Seperti biasa, sebelum menyelami cerita, saya akan terlebih dahulu membahas aspek teknis film seperti visual dan efek khusus—bidang di mana “A Writer’s Odyssey 2” jelas layak mendapat perhatian khusus. Ketika “A Writer’s Odyssey” pertama kali dirilis, efek khususnya sudah termasuk yang terbaik di sinema domestik, dengan desain konsep dan perhatian terhadap detail yang benar-benar mengesankan. Sequel ini membawa semuanya ke level yang lebih tinggi.

Betul sekali perubahan yang terjadi pada karakter utama mengalami depresi ketika ceritanya diambil orang. tak sekedar sisi manusia namun sisi fantasy berjalan bersamaan, Lu KongWen berada pada konflik batik hasil dari tulisan menuju kemana arahnya yang melibatkan emosi karakter lainnya, Dunia fantasi menembus "Dewa" yang akan diburu oleh Iblis rambut merah (Redmane) untuk menggalahkan dewa sehingga di paling hebat diantara semua para jagoan yang tak terkalahkan, keinginan mempengaruhi Lu KongWen untuk menyelesaikan sesuai skenario yang dia tulis. Pada babak kedua banyak yang diceritkan antara dunia orang mati dan dunia ciptaan si penulis namun ada perbedaan keduanya bagaimana mempengaruhi sikap Lu KongWen untuk mampu menyelesaikan dengan sisi yang berbeda, bahwa setiap orang yang telah dibunuh oleh Iblis berambut merah kembali hidup jika sipenulis memberikan secercah harapan, hal ini pada karakter ayah yang rela berjuang demi orang lain , ada belas kasihan dan hati nurani untuk berbuat baik dalam akhir cerita.

A Writers Odyssey 2 terlalu kompleks hingga babak akhir agak kedodoran untuk diperlihatkan part ketiga nanti, terlalu terburu-buru bagi saya , harusnya cukup pada adegan perperangan dengan Redmare dengan Lu KongWen dan menyerang dewa yang tak lain diri sendiri dalam dimensi lain, sehingga babak akhir part ke 2 terlalu bertele-tele, saya yakin sutradara dan penulis naskah ingin mengambarkan apa yang akan terjadi pada part ketiga nanti supaya penonton makin paham yang kadang-kadang tidak masuk akal antara kenyataan dan dunia fantasi yang akhirnya memicu kritik bahwa film ini makin blunder, ini membuktikan sebagai pencipta tak harus berakhir heroik  melainkan menentang plot happy ending tapi antara keadilan dan kesempatan kedua pada akhirnya, A Writer’s Odyssey 2 tidak memberikan jawaban definitif. Nilainya terletak pada sikap yang disampaikannya: bahwa di tengah kebisingan dan ketidakpastian zaman ini, pencipta tetap memilih untuk percaya pada menulis, untuk percaya pada makna ekspresi itu sendiri. Kejujuran yang teguh ini memberikan film ini keseimbangan langka antara daya tarik komersial dan integritas artistik. Jika bagian pertama dapat diringkas sebagai “mencapai adalah percaya,” maka bagian kedua menyempurnakan ini menjadi “berjuang adalah percaya.” Aksi itu sendiri menjadi makna. Melalui sekuel ini, Lu Yang tidak hanya menampilkan pesona estetika Tiongkok yang khas tetapi juga menunjukkan ketinggian baru yang dicapai sinema Tiongkok dalam genre fantasi.

A Writers Odyssey 2 dengan durasi 2 jam 14 menit rasanya melelahkan menjelang akhir namun penjelasan pada menit-menit menekankan realita dunia itu berbeda dengan fantasy ada batasan batasan membuat seseorang berbuat kebaikan pada akhirnya, film ini mulai tayang tanggal 15 Oktober 2025 hanya di Cinepolis,CGV Cinemas, Cinema21. Overall : 7/10


 

 

 





 



Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM HOUSEMAID 2025, Tampil Dalam Cerita Penuh Kejutan

The Housemaid (2025)  Genre: Thriller psikologis / drama Sutradara: Paul Feig Diadaptasi dari novel: The Housemaid karya Freida McFadden Pemeran utama: Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar Ringkasan Cerita Millie, seorang perempuan yang baru keluar dari penjara, mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah milik keluarga Winchester yang kaya  raya. Awalnya pekerjaan ini tampak seperti kesempatan kedua untuk menata hidup. Namun perlahan, atmosfer rumah tersebut berubah mencekam. Rahasia, manipulasi, dan relasi kuasa yang timpang mulai terkuak, menghancurkan ilusi kehidupan kelas atas yang tampak sempurna. Menariknya dari film ini , saya pikir remake film korea karena tidak membaca detil kalau film ini  berdasarkan novel 2022 dengan nama yang sama oleh Freida McFadden. Film tersebut dibintangi oleh Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar. termasuk dalam katagori 17+ ada adegan dewasa, harap sangat bijak untuk menontony...

REVIEW FILM ANIME : The Dangers in My Heart: The Movie

The Dangers in My Heart: The Movie merupakan  film yang menawarkan kisah remaja dengan cara yang jujur dan manusiawi. Ceritanya berpusat pada Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada , dua siswa SMP yang sangat berbeda, namun perlahan saling mendekat melalui momen-momen canggung yang terasa nyata. Kyotaro adalah anak introvert yang cenderung menyendiri. Ia punya minat yang tidak biasa untuk anak seusianya: membaca buku tentang anatomi dan hal-hal gelap, serta mendengarkan musik metal. Di balik itu, ia sebenarnya penuh keraguan, kesepian, dan rasa tidak percaya diri. Pikiran gelapnya bukan tanda kebencian, melainkan cara seorang remaja menghadapi dunia yang terasa menekan. Sebaliknya, Anna Yamada adalah gadis populer di sekolah. Ia ceria, energik, dan secara penampilan terlihat lebih matang dibanding teman-teman sekelasnya. Namun di balik citra itu, Anna punya sisi polos, ceroboh, dan rakus makanan yang membuatnya sangat manusiawi. Ia bukan sosok sempurna, melainkan remaja yang sedang bel...