Skip to main content

REVIEW : THUNDERBOLTS *, Citarasa Superhero Dengan Masalalu Yang Kelam

Bagi yang ingin nonton film saat ada karakter muncul pastikan nonton film marvel sebelumnya AntMan Wasp, the Falcon Winter Soldier dan Black Window karena disanalah mereka dipertemukan pertama kali , namun jika kalian lupa jalan cerita ketiga film diatas tak masalah karena Thunderbolts* tidak saja mengupas segi action superheronya namun mengupas kedalaman karakter masa lalu mereka ketika bertemu karakter Bob (aka Sentry).Yelena sendiri sudah lelah berkelahi dan membunuh orang lain, sebuah tim terbentuk tidak terlalu mulus jalannnya setiap orang ingin jadi pemimpin begitu juga yang terjadi pada Thunderbolts* (Nama ini berasal grup soccer Yelena masih SD), pikiran kita akan menebak bahwa mereka tak terkalahkan atau nama dari pemberian superhero lain . Apa yang terjadi di dalam batin mereka begitu  terlihat dimana masa kelam  terkait oleh pikiran Bob Menyadari tak bakalan bisa merubah masa lalu yang kelam tapi justru masa itu dipake sebagai kekuatan untuk saling menolong satu sama lain Sehingga menemukan jalan keluar demi keselamatan manusia .
Salah satu hal yang paling saya sukai dari Thunderbolts*  Kombinasi karakter yang belum pernah bertemu, tapi menghasilkan dinamika yang menarik. Bayangkan sebuah film yang dibangun di sekitar momen-momen seperti War Machine dan Nebula yang bersatu karena mereka berdua disatukan kembali dengan ingatan-ingatan keberhasilan mereka. Momen-momen di mana Red Guardian (David Harbour) dan Bucky mengobrol santai tentang serum prajurit super sangat menawan. Yelena (Florence Pugh) dan Ghost (Hannah John-Kamen) mengeroyok Agen Walker (Wyatt Russell) untuk mengolok-olok helm Captain America yang sudah usang dan itu sangat mencuri perhatian penonton disaat kondisi yang santai di tempat yang tepat di dalam film dengan efek yang sangat tepat. Sebuah film MCU benar-benar mendapat kesempatan untuk menonjol jika dapat mendukung komponen-komponennya yang lebih mirip karya seni dengan bahan yang menawan seperti ini.

Lewis Pullman (Bob),perjalanannya menjadi The Sentry, adalah kisah tentang kesehatan mental dan kesepian yang ekstrem. Ada hari-hari ketika Bob merasa menjadi Sentry yang tak terkalahkan, dan ada hari-hari ketika dia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan The Void mengambil alih dan mendatangkan malapetaka. Dia adalah lawan yang tepat untuk karakter seperti Yelena, yang selalu mempertanyakan hal-hal yang telah dilakukannya dan bagaimana seharusnya dia merasa tentang dirinya sendiri. Saat Bob memaksa para anggota Thunderbolts untuk menghadapi masa-masa tergelap dalam hidup mereka, film ini membuat pernyataan yang paling kuat tentang betapa hancurnya mereka. Lihat saja bagaimana dia mengambil gambar pertarungan satu lawan banyak di lorong dalam urutan pembukaan film;Ini adalah salah satu hal yang paling mendasar dalam koreografi pertarungan superhero, tetapi kali ini kita melihatnya dari atas kepala, dengan bayangan hitam dan putih yang mencolok yang membentang di seluruh frame. ini adalah gambar yang sangat indah, dan ini berbicara tentang isolasi yang dihadapi Yelena di sepanjang film.

Dan sekali lagi, di sinilah Thunderbolts* benar-benar menjadi yang terbaik. Di sinilah keahlian tim pembuat film ditampilkan sepenuhnya,Bagi saya Thunderbolts serupa menonton Avangers EndGame, berntuk emosional begitu menonjol terutama Yelena saat ingin menyelamatkan Bob dari pengaruh Valentina. Dengan durasi 2 jam 5 menit kita disuguhkan storytelling yang enak bahkan ada post credit semata untuk membuat kita ketawa dan tentunya nyambung pada film berikutnya yang akan tayang bentar lagi di Indonesi.Saksikan THUNDERBOLTS* mulai tayang tanggal 30 April di seluruh bioskop kesayangan anda. Skor : 8/10 


 








Comments

Popular posts from this blog

Press Release Launching Poster PERBURUAN

Press Release Lauching Poster PERBURUAN Jakarta tanggal 27 Juni 2019  - RBOJ Coffee  Sebuah film satu lagi diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer segera tayang bertepatan dengan film Bumi Manusia merupakan karya beliau juga, pihak Falcon Pictures sangat antusias ke-2 film ini dapat terlaksana dengan baik saat pengerjaannya hingga kita akan menantikan jadwal edar di bulan Agustus 2019. Dengan tema nasionalisme diharapkan penonton setia film Indonesia makin mencintai negeri ini, menghargai karya anak bangsa dan mendukung setiap perjalanan perfilmaan di tanah air tercinta. Bertepatan salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Official Poster film PERBURUAN di lauching bersama para pemain seperti Adipati Dolkien (Hardo) , Ayushinta  (Ningsih) , Michael Kho (Prajurit Jepang Shidokan) , Khiva Iskak (Karmin) dan Ernest Samudra (Dipo) sutradara hadir Richard Oh juga Produser Falcon  Pictures Frederica, tak ketinggalan cucu dari Prmaoedya Ananta Toer juga ...

REVIEW : FILM HOUSEMAID 2025, Tampil Dalam Cerita Penuh Kejutan

The Housemaid (2025)  Genre: Thriller psikologis / drama Sutradara: Paul Feig Diadaptasi dari novel: The Housemaid karya Freida McFadden Pemeran utama: Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar Ringkasan Cerita Millie, seorang perempuan yang baru keluar dari penjara, mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah milik keluarga Winchester yang kaya  raya. Awalnya pekerjaan ini tampak seperti kesempatan kedua untuk menata hidup. Namun perlahan, atmosfer rumah tersebut berubah mencekam. Rahasia, manipulasi, dan relasi kuasa yang timpang mulai terkuak, menghancurkan ilusi kehidupan kelas atas yang tampak sempurna. Menariknya dari film ini , saya pikir remake film korea karena tidak membaca detil kalau film ini  berdasarkan novel 2022 dengan nama yang sama oleh Freida McFadden. Film tersebut dibintangi oleh Sydney Sweeney, Amanda Seyfried, Brandon Sklenar. termasuk dalam katagori 17+ ada adegan dewasa, harap sangat bijak untuk menontony...

REVIEW FILM ANIME : The Dangers in My Heart: The Movie

The Dangers in My Heart: The Movie merupakan  film yang menawarkan kisah remaja dengan cara yang jujur dan manusiawi. Ceritanya berpusat pada Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada , dua siswa SMP yang sangat berbeda, namun perlahan saling mendekat melalui momen-momen canggung yang terasa nyata. Kyotaro adalah anak introvert yang cenderung menyendiri. Ia punya minat yang tidak biasa untuk anak seusianya: membaca buku tentang anatomi dan hal-hal gelap, serta mendengarkan musik metal. Di balik itu, ia sebenarnya penuh keraguan, kesepian, dan rasa tidak percaya diri. Pikiran gelapnya bukan tanda kebencian, melainkan cara seorang remaja menghadapi dunia yang terasa menekan. Sebaliknya, Anna Yamada adalah gadis populer di sekolah. Ia ceria, energik, dan secara penampilan terlihat lebih matang dibanding teman-teman sekelasnya. Namun di balik citra itu, Anna punya sisi polos, ceroboh, dan rakus makanan yang membuatnya sangat manusiawi. Ia bukan sosok sempurna, melainkan remaja yang sedang bel...