Skip to main content

Review : The Legend Of Tarzan


Siapa yang tak kenal film Tarzan, sejak kemunculan pertama kali tahun 1918 - Tarzan Of the Apes hingga tahun 1984 - Greystroke : The Legend Of Tarzan , Lord of the Apes. Pastinya sebagain kita sudah hapal seluk beluk kisah romantis antara Tarzan - Jane, bahkan sempat populer menjadikan kisahnya di radio waktu itu.  Ekspektasi kta pasti tak jauh dari kisah ini , namun tahun ini 2016 Tarzan tampil sanggat berbeda .



Sebuah film karya David Yates ( Sutradara 4 film Harry Potter ) terbaru berjudul The Legend of Tarzan 2016 , mengkisahkan kehidupan Tarzan (Alexander Skarsgard) sudah lama berada di kota berasama istrinya  Jane (Margot Robbie ) , sebagai pewaris tunggal keturunan Lord Greystroke lebih dikenal John Clayton III, diminta kembali ke Congo oleh pemerintah Belgia dikarenakan Congo berhutang atas perang yang terjadi. Namun Tarzan tidak mengetahui motif kepergian ke Congo, ternyata Kapten Leon Rom (Christoph Waltz) mempunyai misi rahasia mencari berlian Opar yang terkenal sejak lama. Leon Rom bersengkokol dengan Chief  Mbonga (Djimon Hounsou).  Chief Mbonga sangat membenci Tarzan dimana pertarungan beberapa tahun yang lalu . Tarzan tak ingin Jane ikut bersamanya misi tersebut sangat berbahaya, sebagai istri jane meyakinkan dia bisa menjaga dirinya dalam misi tersebut.  Tarzan ditemani oleh ex military  G.W Williams (Samuel L Jackson) dalam menelurusuri hutan Congo, sesampai disana Tarzan bertemu teman lama yang telah menyelamatkan dari berbagai masalah. Tak berselang beberapa lama, Jane diculik oleh segerombolan orang yang tak dikenal. setelah diusut siapa yang menculik Jane tak lain adalah Kapten Leon Rom, menurut cerita orang bahwa Kapten Leon ini menukar Tarzan dengan sejumlah berlian opar dari Raja Mbonga asal kepala Tarzan diberikan kepadanya.



 
Singkat cerita selama di perjalanan Tarzan harus menghadapi berbagai masalah dengan musuh bebuyutan Gorilla Ganas, hingga penculikan suku primitif setempat yang akan dijadikan budak pembuatan jalan kereta api. Dengan bantuan bebrapa teman Tarzan mampu mencari Jane namun tak mudah begitu saja, Kapten Leon penuh dengan kelicikan membunuh Tarzan lebih dulu dengan bantuan tentara bayaran yang haus uang & darah. 


Mampukan Tarzan menyelamatkan Jane ?
Kenapa Chief Mbongga sangat ingin kepala Tarzan?

Dengan alur flash-back , penonton mengerti alurnya-mudah dipahami, walaupun Sutradara David Yates membuat film sedikit kelam, namun tak membuat kita serius menontonya , adegan Visual CGI yang terlihat sangat nyata, jangan dilewatkan 3D-IMAX,  dentuman audio scoring menambah The Legend of Tarzan mampu merajai fillm Box Office berikutnya . Film ini termasuk Rating PG-13 ada bebeapa adegan dipotong tapi tak menganggu kenikmatannya, dengan durasi 1 Jam 50 Menit film berlangsung menjadikan tontonan wajib para Moviegoers .

Pihak Warner Bros sejak tahun 2003 merencanakan membuat film ini namun dengan berapa pengantian sutradara,penulis  hingga para pemain utama , maka tahun 2014 film ini dikerjakan di studio Warner Bros - UK selama 70 hari . David Yates yakin penonton sangat menyukai film The Legend of Tarzan yang tayang tanggal 1 Juli 2016 diseluruh Indonesia , bagi yang suka film 3D disarankan nonton dalam versi ini karena banyak sekali adegan Pop-upnya.

Overall : 7.5/10 






Comments

Popular posts from this blog

REVIEW : HOMESTAY ( THAILAND MOVIE 2019 )

HOMESTAY (Thailand Movie 2019 ) Directed :Parkpoom Wongpoom Starring : Teeradon Supapunpinyo, Cherprang Areekul, Suquan Bulakul Production : GDH  Runtime : 131 Minutes Mengadaptasi dari novel dan diadaptasi pada anime jepang tahun 2010 berjudul "Colorful" karya Eto Mori, dengan cerita yang sangat menarik bahkan mendapatkan pujian para kritikus begitu mengena hati penonton, nah tahun 2019 salah satu sutradara Thailand - Parkpoom Wongpoom (Shutter, Alone, Bad Genius )  mencoba mengarap dalam live action berjudul " Homestay " ber genre drama romantis plus bumbu sedikit horor dengan tetap pada koridor anak remaja. Film ini dirilis Tahun 2018 bulan Oktober menduduki Box Office urutan pertama dengan penghasilan 37.49 Juta Baht (= -+ Rp 1.677.655.944.48,-) diawal minggu pertama tak heran jika di Thailand mendapatkan sambutan sangat luar biasa, dan kesempatan ini diambil oleh pihak distributor di Indonesia untuk tayang di jaringan CGV,Cinemaxx Theater. Dal

Review Take Me Home

Take Me Home  Genre Suspense/ Horror Released Date 11 Mei 2016 Distributor  / Sales Representative : M Pictures Co., Ltd Casting :  Mario Maurer / Wannarot Sonthichai / Peter Noppachai / Producer ; Kanyarat Jiraratchakit Director : Kongkiat Khomsiri Negeri  Gajah Putih ini selalu bisa memberikan tontonan Horor yang tidak mudah ditebak oleh penonton, masih dengan gaya yang khas sinematography mereka. Film ini masih bisa dibilang membuat jantungan yang menontonnya, dari segi kostum , dekorasi bahkan lokasi yang dijadikan punya sangat tepat . Apalagi kehadiran wajah tampan Mario Maurer masih menjadikan film thailand di nanti-nanti oleh pengemarnya. Tan ( Mario Maurer ) , koma setelah kecelakan yang menimpanya sejak 10 tahun yang lalu, saat ini dia berada di sebuah Rumah Sakit dan bekerja disana. Namun kerinduan asal usulnya membuat dia mencari keberadaan keluarganya. Setelah mengetahuinya  Tan mendatangi rumah yang tertera difoto yang dia temukan di bangsal Rumah Sak

REVIEW : DIGNITATE (2020)

DIGNITATE Sutradara : Fajar Nugros Produksi : MD Pictures Durasi : 109 Minutes Apakah yang menjadi dasar sutradara menulis ulang dari kisah yang sukses dalam sebuah Wattpad, mereka ingin tidak sekedar berimajinasi tapi bisa melihat secara jelas apa yang telah mereka baca selama ini. Banyak penulis-penulis muda di Wattpad yang akhirnya masuk dalam layar lebar salah satunya Dignitate karya Hana Margaretha sukses secara pasaran, disukai banyak kawula muda dengan cerita masa kini, cocok dan mengena pada sasaran. Kesempatan baik ini langsung diambil alih oleh sutradara Fajar Nugros menjadi sebuah cerita yang menarik, jayus, lucu dan punya nilai tersendiri. Sebagai Produser MD, Manoj Punjabi disela-sela Premiere Diginate beberapa waktu lalu di Epicentrum – Jakarta, mengatakan : “ Anak remaja sekarang sudah mengerti film bagus bermutu dalam penyanjiannya, ntah apakah film itu dalam sebuah drama, komedi atau horror sekalipun, saya percaya bahwa film ini akan diterima oleh semua re